Gak terasa sudah lebih dari dua minggu aku menggeluti hobby baruku, yaitu....... HUJAN-HUJANAN!!!!!!! Hehehehehehe
Kalau dulu setiap hujan dipagi hari selalu aku jadikan alibi buat bermalas-malasan, bolos kuliah, atau bolos kerja dengan alasan sakit lah, banjir lah, sampai yang paling konyol motor mogok karena STNK-nya basah......!!!!
Kalau sekarang tiap ada hujan malah semakin semangat, meski itu jam 12 malam sekalipun (sensasinya beda bo....). Bahkan pernah ketika berangkat kerja dipagi hari dengan sepeda motor dalam suasana hujan lebat, saat sampai diujung jalan hujannya habis sedangkan dibelakangku hujan begitu lebatnya, aku bisa putar motor dan balik lagi hanya untuk hujan-hujanan...... wkwkwkwkwkwkwk...... dasar orang gila.
Masih teringat ketika melintas didaerah Jimbaran, saking lebatnya tuh hujan membuat aku menepi sebentar. Aku berteduh disebuah areal yang belakangan baru aku tahu bernama Puja Mandala. Menurutku tempat ini cukup nyaman dengan 5 tempat ibadah dalam satu areal, ada masjid, gereja, pura, wihara yang saling berdampingan.
Cukup banyak orang yang berteduh ditempat itu, tapi pandanganku terpaku pada seorang cewek yang memakai T-Shirt yang ada tulisannya yg sangat keren, tulisannya adalah “GOD IS TOO BIG TO PUT INTO ONE RELIGION”.
Wow.... keren!!!!
Lumayan lama aku merenungi kata-kata itu. Aku jadi teringat kata-kata para pemuka agama dari agama yang berbeda yang menyiratkan hal yang serupa bahwa obat dari hati itu adalah agama (Ajarannya, Ritual Sembahyangnya, Kitab Sucinya), yang semuanya bermuara kepada DIA Yang Maha Kuasa.
Namun tiba-tiba terbayang sebuah adegan di film lama “SEVEN YEARS IN TIBET” yang dibintangi oleh Brad Pitt, diceritakan sewaktu China menginvasi Tibet mereka menghancurkan banyak Biara dan membunuh banyak Biksu serta mengatakan bahwa ,”Agama adalah RACUN.....”.
“Ah..... dasar orang komunis...!!!!”, begitu batinku sewaktu menyaksikan film itu.
Namun serupa dengan obat yang biasa kita konsumsi, dia juga bisa berubah menjadi racun bila takarannya tidak pas. Manusia yang kesepian di keramaian, Atau kelaparan di tengah kekayaan materi yang melimpah, Atau malah dihimpit kebencian di tempat ibadah yang suci dan mulia, barangkali merupakan efek dari Racun-Racun tersebut. Dan secara jujur harus aku katakan, akupun kadang-kadang ditulari penyakit serupa.
Kalau aku kutip dari tulisan Pak Gede Prama bahwa dunia pencerahan baru kita temukan kalau kita mulai menemukan orang Kristen di Masjid, saudara-saudara Muslim di Vihara, sahabat-sahabat beragama Budha di Pura, atau penganut Hindu di Gereja. Tentu saja maksudnya bukan
kehadiran fisik. Namun kehadiran secara persahabatan. Terutama, persahabatan dalam kedamaian dan kebahagiaan. Kalau masih kita merasakan permusuhan dan perlombaan kebenaran di tempat ibadah, aku mau bertanya: masihkah kita layak untuk berdoa dari tempat suci ini?
Dikaguminya tokoh-tokoh Sufi seperti Jalaludin Rumi di Barat, demikian berwibawanya karya-karya Kahlil Gibran di banyak belahan dunia, dikutipnya doa Santo Fransiscus dari Asisi tidak saja dalam kalangan umat Katolik, dugunakannya Baghawad Gita sebagai acuan tidak saja dalam komunitas Hindu, didengarnya pesan-pesan Dalai Lama oleh banyak sekali manusia yang bukan beragama Buddha, hanyalah sebagian bukti kalau tembok-tembok fanatisme semakin kecil dan semakin kecil. Sehingga dalam totalitas, hanya manusia-manusia yang enggan bertumbuhlah yang masih memeluk erat-erat fanatisme dan absolutisme. Saat itulah agama bisa berperan sebagai obat.
Ah......... jadi ngelantur kemana-mana nih pikiran. Udah ah.... aku mau melanjutkan perjalanan, kembali berburu hujan...... :D
Diskusi Tentang Law of Attraction
Selasa, 24 Januari 2012
Senin, 02 Mei 2011
TERSESAT DI BELANTARA PIKIRAN
Dalam sehari berapa kalikah kita berpikir? Pernahkah anda menghitungnya?
Pertanyaan ini pernah dijawab melalui suatu research yang kemudian dibukukan dalam buku yang berjudul The Aladin Factor karya Jack Canfield. Disana disebutkan bahwa manusia normal berpikir 60.000 kali sehari, dan 80% dari 60.000 diantaranya adalah pikiran yang negatif. Jadi gak heran bila kita menghadapi suatu masalah akan diikuti masalah-masalah lainnya, itu karena cara berpikir kita yang hanya berfokus pada masalah dan bukannya berfokus pada solusi.
Siapakah anda? Pernah gak anda memikirkan siapakah anda?
Mungkin anda akan menjawab dengan nama anda dan diikuti dengan jabatan anda, nama orang tua anda dll.
Tapi pernahkah anda memikirkan siapakah diri anda menurut keyakinan anda?
Kebanyakan dari kita (termasuk saya) jarang atau bahkan tidak pernah memikirkannya. Kita lebih sibuk dan juga lebih lama memikirkan mau beli baju apa, mau makan dimana, nonton film apa.
Sekalinya terpikir justru yang kita pikirkan adalah hal-hal yang negatif tentang diri kita. Seperti ‘saya tidak beruntung, saya selalu sial, saya anak orang miskin...dll’
Pikiran itu cara kerjanya luar biasa. Kalau kita pernah nonton film perang, disana digambarkan bahwa sebelum peluru kendali atau missile diluncurkan mereka harus menetapkan targetnya terlebih dahulu, pikiran kita pun cara kerjanya serupa dengan itu. Keyakinan tentang diri kita adalah target yang kita berikan pada pikiran kita. Jadi saat kita percaya bahwa kita adalah orang yang selalu sial, maka pikiran kita akan mencari segala sesuatu sebagai pembenaran bahwa kita memang orang yang selalu sial, sehingga entah bagaimana yang kita temui adalah ‘kesialan-kesialan’ saja.
Itulah pikiran kita. Dia akan mengejar sesuatu yang kita berikan fokus padanya. Suatu contoh kecil dan sederhana, sebelum tidur katakan pada diri sendiri dengan penuh keyakinan “SAYA AKAN BANGUN PUKUL 5 PAGI”, dan besoknya kita akan bangun jam 5 pagi, tanpa melihat jam dan tanpa menyetel alarm. Itu karena target yang kita berikan ke pikiran kita itu jelas. Namun bila targetnya tidak jelas seperti “SAYA AKAN BANGUN SEPAGI MUNGKIN”, maka pikiran akan merespon dengan 2 cara. PERTAMA : Pikiran akan mengabaikannya. “Jam 4 pagi, jam 5 pagi, jam 9 pagi, jam 10 juga pagi. Yang mana nih??? Kayaknya yang ngasi perintah itu orang goblok, ya udah gak usah dijalanin”. KEDUA : Pikiran akan menganggapnya terlalu serius. Jam 01.00 kita terbangun. Jam 01.10 terbangun lagi. Jam 01.15 bangun lagi dan malah gak bisa tidur. Jadi target yang kita berikan musti jelas.
Ternyata banyak sekali orang (termasuk saya) yang bermasalah dengan cara berpikir (mindset) kita. Kemampuan memberi arti (dalam hal ini cara berfikir atau mindset) ternyata bisa membuat hidup kita lebih mudah. Banyak orang yang tidak berbahagia bukan karena mereka tidak bisa bahagia, tapi karena mereka memberi arti “bahagia itu dengan cara yang salah”. Mereka biasanya menetapkan syarat yang aneh-aneh untuk bisa bahagia.
Misalnya ada orang yang ditanya, “KAPAN ANDA MERASA BAHAGIA?”
Kebanyakan mereka akan menjawab dengan, “Saya merasa bahagia saat punya uang 10 Milyar, punya rumah besar lengkap dengan kolam renang dan perabotan yang lux, punya mobil, dll”
Itu sama saja artinya selama mereka belum mendapatkan itu semua berarti mereka tidak bahagia. Sayang sekali kan? Padahal kita bisa berbahagia kapan saja. Kita boleh-boleh saja menetapkan goal pencapaian yang tinggi, tapi untuk masalah rule mengenai bahagia kita sendiri yang menentukan. Jadi buatlah rule mengenai bahagia itu semudah mungkin. So.... kita bisa bilang “SAYA MERASA BAHAGIA BILA SAYA MEMUTUSKAN UNTUK BAHAGIA”. Atau bila ada yang bertanya, “KAPAN ANDA MERASA BAHAGIA?” maka kita bisa menjawabnya dengan, “ANYTIME..... KAPAN SAJA”. Perlu diingat bahwa UANG belum tentu bisa membuat kita bahagia, tapi bahagia itu bisa menghasilkan UANG.
Kita bisa melakukan pemberian makna ini pada semua aspek kehidupan kita. Apa itu masalah? Kerja itu apa? Atau apa itu uang? Apakah anda percaya bahwa uang adalah akar dari segala kejahatan? Waduh.... celaka kalau anda punya keyakinan seperti itu(saya pernah tuh punya keyakinan itu). Itu sama aja artinya anda tidak akan bisa kaya dan punya banyak uang, karena dasarnya anda orang baik dan anda tidak ingin jadi jahat.
Cara kita berpikir atau mindset kita biasanya terekam jelas dipikiran bawah sadar kita. Dia bisa berperan sebagai autopilot yang mengarahkan hidup kita. Jadi bila cara berpikir atau mindset kita salah, maka dia secara otomatis mengarahkan hidup kita dan kita biasa menyebutnya ‘NASIB’. Ingat takdir semua manusia itu selalu baik, tapi nasib belum tentu. Nasib kita sendiri yang menentukan.
Menurut saya Tuhan selalu menjawab “YA”. Ada suatu rumus menarik yang menjelaskan bahwa ternyata semua doa kita itu terkabul. Rumus itu adalah “PIKIRAN + PERASAAN = DOA”. Pikiran itu kekuatannya adalah 12% dan perasaan itu kekuatannya adalah 88%. Jadi ketika kita menginginkan sesuatu namun perasaan kita merasa tidak yakin atau ragu-ragu, maka Doa yang terlantunkan adalah keraguan dan ketidak yakinan itu, sehingga yang kita dapat sering kali serupa dengan yang kita takutkan, serupa dengan yang kita tidak yakini tersebut. Jadi disini sangatlah penting untuk kita merasa FEEL GOOD terhadap pikiran kita sendiri.
Karena PIKIRAN+PERASAAN=DOA. Maka diri kita saat ini adalah hasil dari DOA (PIKIRAN+PERASAAN) kita dimasa lampau. So... kalau kita ingin menjadi seperti apa dimasa depan, kita bisa mulai dengan menDOAkan (MEMIKIRKAN+MERASAKAN) diri kita menjadi seperti apa dimasa depan, SESUKA HATI KITA......!!!!
Inilah esensi dari QS. Ar Ra’du 13:11 “Sesungguhnya takkan berubah nasib suatu kaum, sebelum mereka merubah SESUATU yang ada dalam diri mereka”. QS. Al Mukmin 60 “Dan Tuhanmu berfirman: mintalah kepada-KU niscaya akan AKU perkenankan bagimu”.
Hal ini paralel dengan yang saya temukan di bible Matius 7:8 dan Lucas 11:10 “Karena setiap orang yang meminta akan menerima, setiap orang yang mencari akan menemukan dan setiap yang mengetuk baginya pintu dibukakan”.
Dan hal ini berhubungan juga dengan yang saya temukan di kitab Dharma Vhada 1:1 “Pikiran adalah pembentuk dari segala sesuatu, pikiran adalah pelopor dan pikiran adalah pemimpin”.
Namun perlu diingat, setelah kita tahu bahwa ternyata pikiran memiliki kekuatan yang begitu dashyat, namun pikiran hanyalah tools atau alat bantu yang dianugrahkan Tuhan kepada kita. Jadi gunakanlah secara benar. Janganlah setelah kita tahu betapa hebatnya pikiran, kita justru malah men-TUHAN-kan pikiran. Itu fatal..... tidak boleh dilakukan. Sebab segala yang kita lakukan didunia ini selalu ada faktor X yang bermain didalamnya. Ada yang menyebut faktor X itu sebagai Tuhan dan ada yang menyebutnya sebagai “kondisi karma seseorang”. Jadi bila Tuhan tidak ridho, bila Tuhan tidak mengizinkan atau kondisi karmanya tidak memungkinkan, maka apapun yang kita kerjakan tidak akan berhasil.
Dalam sehari berapa kalikah kita berpikir? Pernahkah anda menghitungnya?
Pertanyaan ini pernah dijawab melalui suatu research yang kemudian dibukukan dalam buku yang berjudul The Aladin Factor karya Jack Canfield. Disana disebutkan bahwa manusia normal berpikir 60.000 kali sehari, dan 80% dari 60.000 diantaranya adalah pikiran yang negatif. Jadi gak heran bila kita menghadapi suatu masalah akan diikuti masalah-masalah lainnya, itu karena cara berpikir kita yang hanya berfokus pada masalah dan bukannya berfokus pada solusi.
Siapakah anda? Pernah gak anda memikirkan siapakah anda?
Mungkin anda akan menjawab dengan nama anda dan diikuti dengan jabatan anda, nama orang tua anda dll.
Tapi pernahkah anda memikirkan siapakah diri anda menurut keyakinan anda?
Kebanyakan dari kita (termasuk saya) jarang atau bahkan tidak pernah memikirkannya. Kita lebih sibuk dan juga lebih lama memikirkan mau beli baju apa, mau makan dimana, nonton film apa.
Sekalinya terpikir justru yang kita pikirkan adalah hal-hal yang negatif tentang diri kita. Seperti ‘saya tidak beruntung, saya selalu sial, saya anak orang miskin...dll’
Pikiran itu cara kerjanya luar biasa. Kalau kita pernah nonton film perang, disana digambarkan bahwa sebelum peluru kendali atau missile diluncurkan mereka harus menetapkan targetnya terlebih dahulu, pikiran kita pun cara kerjanya serupa dengan itu. Keyakinan tentang diri kita adalah target yang kita berikan pada pikiran kita. Jadi saat kita percaya bahwa kita adalah orang yang selalu sial, maka pikiran kita akan mencari segala sesuatu sebagai pembenaran bahwa kita memang orang yang selalu sial, sehingga entah bagaimana yang kita temui adalah ‘kesialan-kesialan’ saja.
Itulah pikiran kita. Dia akan mengejar sesuatu yang kita berikan fokus padanya. Suatu contoh kecil dan sederhana, sebelum tidur katakan pada diri sendiri dengan penuh keyakinan “SAYA AKAN BANGUN PUKUL 5 PAGI”, dan besoknya kita akan bangun jam 5 pagi, tanpa melihat jam dan tanpa menyetel alarm. Itu karena target yang kita berikan ke pikiran kita itu jelas. Namun bila targetnya tidak jelas seperti “SAYA AKAN BANGUN SEPAGI MUNGKIN”, maka pikiran akan merespon dengan 2 cara. PERTAMA : Pikiran akan mengabaikannya. “Jam 4 pagi, jam 5 pagi, jam 9 pagi, jam 10 juga pagi. Yang mana nih??? Kayaknya yang ngasi perintah itu orang goblok, ya udah gak usah dijalanin”. KEDUA : Pikiran akan menganggapnya terlalu serius. Jam 01.00 kita terbangun. Jam 01.10 terbangun lagi. Jam 01.15 bangun lagi dan malah gak bisa tidur. Jadi target yang kita berikan musti jelas.
Ternyata banyak sekali orang (termasuk saya) yang bermasalah dengan cara berpikir (mindset) kita. Kemampuan memberi arti (dalam hal ini cara berfikir atau mindset) ternyata bisa membuat hidup kita lebih mudah. Banyak orang yang tidak berbahagia bukan karena mereka tidak bisa bahagia, tapi karena mereka memberi arti “bahagia itu dengan cara yang salah”. Mereka biasanya menetapkan syarat yang aneh-aneh untuk bisa bahagia.
Misalnya ada orang yang ditanya, “KAPAN ANDA MERASA BAHAGIA?”
Kebanyakan mereka akan menjawab dengan, “Saya merasa bahagia saat punya uang 10 Milyar, punya rumah besar lengkap dengan kolam renang dan perabotan yang lux, punya mobil, dll”
Itu sama saja artinya selama mereka belum mendapatkan itu semua berarti mereka tidak bahagia. Sayang sekali kan? Padahal kita bisa berbahagia kapan saja. Kita boleh-boleh saja menetapkan goal pencapaian yang tinggi, tapi untuk masalah rule mengenai bahagia kita sendiri yang menentukan. Jadi buatlah rule mengenai bahagia itu semudah mungkin. So.... kita bisa bilang “SAYA MERASA BAHAGIA BILA SAYA MEMUTUSKAN UNTUK BAHAGIA”. Atau bila ada yang bertanya, “KAPAN ANDA MERASA BAHAGIA?” maka kita bisa menjawabnya dengan, “ANYTIME..... KAPAN SAJA”. Perlu diingat bahwa UANG belum tentu bisa membuat kita bahagia, tapi bahagia itu bisa menghasilkan UANG.
Kita bisa melakukan pemberian makna ini pada semua aspek kehidupan kita. Apa itu masalah? Kerja itu apa? Atau apa itu uang? Apakah anda percaya bahwa uang adalah akar dari segala kejahatan? Waduh.... celaka kalau anda punya keyakinan seperti itu(saya pernah tuh punya keyakinan itu). Itu sama aja artinya anda tidak akan bisa kaya dan punya banyak uang, karena dasarnya anda orang baik dan anda tidak ingin jadi jahat.
Cara kita berpikir atau mindset kita biasanya terekam jelas dipikiran bawah sadar kita. Dia bisa berperan sebagai autopilot yang mengarahkan hidup kita. Jadi bila cara berpikir atau mindset kita salah, maka dia secara otomatis mengarahkan hidup kita dan kita biasa menyebutnya ‘NASIB’. Ingat takdir semua manusia itu selalu baik, tapi nasib belum tentu. Nasib kita sendiri yang menentukan.
Menurut saya Tuhan selalu menjawab “YA”. Ada suatu rumus menarik yang menjelaskan bahwa ternyata semua doa kita itu terkabul. Rumus itu adalah “PIKIRAN + PERASAAN = DOA”. Pikiran itu kekuatannya adalah 12% dan perasaan itu kekuatannya adalah 88%. Jadi ketika kita menginginkan sesuatu namun perasaan kita merasa tidak yakin atau ragu-ragu, maka Doa yang terlantunkan adalah keraguan dan ketidak yakinan itu, sehingga yang kita dapat sering kali serupa dengan yang kita takutkan, serupa dengan yang kita tidak yakini tersebut. Jadi disini sangatlah penting untuk kita merasa FEEL GOOD terhadap pikiran kita sendiri.
Karena PIKIRAN+PERASAAN=DOA. Maka diri kita saat ini adalah hasil dari DOA (PIKIRAN+PERASAAN) kita dimasa lampau. So... kalau kita ingin menjadi seperti apa dimasa depan, kita bisa mulai dengan menDOAkan (MEMIKIRKAN+MERASAKAN) diri kita menjadi seperti apa dimasa depan, SESUKA HATI KITA......!!!!
Inilah esensi dari QS. Ar Ra’du 13:11 “Sesungguhnya takkan berubah nasib suatu kaum, sebelum mereka merubah SESUATU yang ada dalam diri mereka”. QS. Al Mukmin 60 “Dan Tuhanmu berfirman: mintalah kepada-KU niscaya akan AKU perkenankan bagimu”.
Hal ini paralel dengan yang saya temukan di bible Matius 7:8 dan Lucas 11:10 “Karena setiap orang yang meminta akan menerima, setiap orang yang mencari akan menemukan dan setiap yang mengetuk baginya pintu dibukakan”.
Dan hal ini berhubungan juga dengan yang saya temukan di kitab Dharma Vhada 1:1 “Pikiran adalah pembentuk dari segala sesuatu, pikiran adalah pelopor dan pikiran adalah pemimpin”.
Namun perlu diingat, setelah kita tahu bahwa ternyata pikiran memiliki kekuatan yang begitu dashyat, namun pikiran hanyalah tools atau alat bantu yang dianugrahkan Tuhan kepada kita. Jadi gunakanlah secara benar. Janganlah setelah kita tahu betapa hebatnya pikiran, kita justru malah men-TUHAN-kan pikiran. Itu fatal..... tidak boleh dilakukan. Sebab segala yang kita lakukan didunia ini selalu ada faktor X yang bermain didalamnya. Ada yang menyebut faktor X itu sebagai Tuhan dan ada yang menyebutnya sebagai “kondisi karma seseorang”. Jadi bila Tuhan tidak ridho, bila Tuhan tidak mengizinkan atau kondisi karmanya tidak memungkinkan, maka apapun yang kita kerjakan tidak akan berhasil.
Selasa, 19 April 2011
ANOTHER WAY TO FEEL GOOD
Dulu saya sempat berfikir,” kenapa ya agama saya begitu getol menganjurkan umatnya untuk bersedekah?”
Namun seiring perjalanan waktu, saya mendapati semua agama menganjurkan umatnya untuk sedekah, bahkan atheis sekalipun. Dan dasyatnya lagi para motivator-motivator kelas dunia semacam Anthony Robbin, Jack Canfield, Jim Rhon dll menganjurkan hal yang sama. Mereka menyebut sedekah dengan kata yang beragam, baik itu sumbangan, donasi, charity, dana punia dll.
Dan lebih mengejutkan lagi jika membaca kisah sukses para pengusaha kelas nasional dan internasional, ternyata mereka adalah para dermawan bahkan jauh sebelum usaha mereka terbentuk sekalipun.
Yang lebih mencengangkan adalah mereka melakukan dan juga menganjurkan bersedekah dengan jumlah yang berlebih. Mereka menyumbang 10%-40% dari penghasilan mereka.
GILA......!!!!!!!!
Di agama kita diajarkan menyisihkan “sebagian” pendapatan kita untuk disumbangkan. Berapa sih menurut kalian “sebagian” tersebut? 2,5%, 10%, 20%, 40% atau berapa? Misalnya waktu kita kecil nenek memberi kita sejumlah uang dangan pesan, “sebagian berikan buat adikmu ya..!!” terus berapa bagian yang akan kita beri buat saudara kita bila pesannya seperti itu??
Sebenarnya setiap kali kita memberi, maka pada waktu yang sama kita akan membuang “energi negatif” keluar dari diri kita, sekaligus menghimpun “energi positif” ke dalam diri kita.
Hhhmmm.... tidak percaya????
Coba saja perhatikan..!!! sehabis menyumbang ada semacam perasaan “PLONG”
Iya ‘kan??
Kemudian akumulasi “energi positif” itu membuat kita FEEL GOOD dan FEEL GOOD itu pun memancar. Dengan demikian, ketika kita berhubungan dengan customer, suppliyer, atau siapa pun, mereka juga merasakan hal yang sama, yakni FEEL GOOD. Dengan kondisi demikian, maka urusan-urusan kita dengan mereka pun dimudahkan. Dan cepat atau lambat itu semua akan melancarkan, bahkan melipatgandakan pendapatan kita –dengan seizinNYA.
So... it’s good to feel good
Namun seiring perjalanan waktu, saya mendapati semua agama menganjurkan umatnya untuk sedekah, bahkan atheis sekalipun. Dan dasyatnya lagi para motivator-motivator kelas dunia semacam Anthony Robbin, Jack Canfield, Jim Rhon dll menganjurkan hal yang sama. Mereka menyebut sedekah dengan kata yang beragam, baik itu sumbangan, donasi, charity, dana punia dll.
Dan lebih mengejutkan lagi jika membaca kisah sukses para pengusaha kelas nasional dan internasional, ternyata mereka adalah para dermawan bahkan jauh sebelum usaha mereka terbentuk sekalipun.
Yang lebih mencengangkan adalah mereka melakukan dan juga menganjurkan bersedekah dengan jumlah yang berlebih. Mereka menyumbang 10%-40% dari penghasilan mereka.
GILA......!!!!!!!!
Di agama kita diajarkan menyisihkan “sebagian” pendapatan kita untuk disumbangkan. Berapa sih menurut kalian “sebagian” tersebut? 2,5%, 10%, 20%, 40% atau berapa? Misalnya waktu kita kecil nenek memberi kita sejumlah uang dangan pesan, “sebagian berikan buat adikmu ya..!!” terus berapa bagian yang akan kita beri buat saudara kita bila pesannya seperti itu??
Sebenarnya setiap kali kita memberi, maka pada waktu yang sama kita akan membuang “energi negatif” keluar dari diri kita, sekaligus menghimpun “energi positif” ke dalam diri kita.
Hhhmmm.... tidak percaya????
Coba saja perhatikan..!!! sehabis menyumbang ada semacam perasaan “PLONG”
Iya ‘kan??
Kemudian akumulasi “energi positif” itu membuat kita FEEL GOOD dan FEEL GOOD itu pun memancar. Dengan demikian, ketika kita berhubungan dengan customer, suppliyer, atau siapa pun, mereka juga merasakan hal yang sama, yakni FEEL GOOD. Dengan kondisi demikian, maka urusan-urusan kita dengan mereka pun dimudahkan. Dan cepat atau lambat itu semua akan melancarkan, bahkan melipatgandakan pendapatan kita –dengan seizinNYA.
So... it’s good to feel good
Selasa, 05 April 2011
MY NEW MINDSET ABOUT GRATITUDE
MY NEW MINDSET ABOUT GRATITUDE
Dua tahun lalu aku pernah mendapat hadiah kado berupa kemeja dari seseorang. Aku sayang banget sama tu kemeja. Aku simpan dan sebulan sekali aku cuci. Sama sekali tidak pernah aku pakai.
5 bulan kemudian orang yang memberikan aku kado itu datang maen kerumah. Dengan sepengetahuanku dia menggunting-gunting kemeja itu menjadi potongan-potongan kecil seukuran lap. Aku yang melihat itu tentu saja kaget dan marah, tapi dengan santai dia bilang, “Oh, aku kira kamu memang tidak suka sama itu kemeja. Kemeja itu buat dipakai, bukan dipajang. Sejak aku belikan 5 bulan lalu hingga sekarang sekalipun kau tidak pernah memakainya.”
Hmmmm........ kejadian 2 tahun lalu itu melintas begitu saja dalam pikiranku semalam. Aku jadi mengambil kesimpulan bahwa cara terbaik untuk bersyukur dan berterima kasih adalah dengan memakai dan memanfaatkan sesuatu yang diberikan kepada kita untuk digunakan dan bukan Cuma dipajang dan disimpan tanpa pernah dimanfaatkan sama sekali.
Aku jadi merasa malu sama Tuhan. DIA telah memberiku tubuh dan pikiran yang sehat, tapi aku belum menggunakan semua yang dianugrahkan-NYA itu untuk sesuatu yang bermanfaat, baik buat diriku pribadi dan orang-orang banyak laennya.
Apakah aku mau menukarkan kedua tangan dan kakiku dengan uang 1milyar, dan besok aku buntung seumur hidup?
Apakah aku mau menukarkan pikiran sehatku, dan besok aku jadi orang gila?
Apakah aku mau menukarkan penglihatanku dengan uang 1milyar?
AKU RASA TIDAK....!!!!!
Jadi jika begitu harusnya aku bisa memanfaatkan kedua tangan dan kakiku, pikiran sehatku, penglihatanku, indera pengecap dan penciumanku, ketajaman pendengaranku serta semua yang telah Tuhan anugrahkan padaku untuk ditukarkan dengan uang sejumlah 1milyar bahkan lebih. Semestinya aku mampu berbuat sesuatu yang berguna bagi diriku dan orang laennya dengan apa-apa yang telah DIA anugrahkan padaku.
Hufffff............. ternyata selama ini aku belum cukup bersyukur. Aku belum menggunakan apa-apa yang telah DIA anugrahkan padaku dengan semestinya.
Mestinya aku bisa menunjukkan rasa syukurku dengan cara Berpikir yang benar, Berkata yang benar dan berbuat yang benar.
Karena itulah doa yang hidup.......
Dua tahun lalu aku pernah mendapat hadiah kado berupa kemeja dari seseorang. Aku sayang banget sama tu kemeja. Aku simpan dan sebulan sekali aku cuci. Sama sekali tidak pernah aku pakai.
5 bulan kemudian orang yang memberikan aku kado itu datang maen kerumah. Dengan sepengetahuanku dia menggunting-gunting kemeja itu menjadi potongan-potongan kecil seukuran lap. Aku yang melihat itu tentu saja kaget dan marah, tapi dengan santai dia bilang, “Oh, aku kira kamu memang tidak suka sama itu kemeja. Kemeja itu buat dipakai, bukan dipajang. Sejak aku belikan 5 bulan lalu hingga sekarang sekalipun kau tidak pernah memakainya.”
Hmmmm........ kejadian 2 tahun lalu itu melintas begitu saja dalam pikiranku semalam. Aku jadi mengambil kesimpulan bahwa cara terbaik untuk bersyukur dan berterima kasih adalah dengan memakai dan memanfaatkan sesuatu yang diberikan kepada kita untuk digunakan dan bukan Cuma dipajang dan disimpan tanpa pernah dimanfaatkan sama sekali.
Aku jadi merasa malu sama Tuhan. DIA telah memberiku tubuh dan pikiran yang sehat, tapi aku belum menggunakan semua yang dianugrahkan-NYA itu untuk sesuatu yang bermanfaat, baik buat diriku pribadi dan orang-orang banyak laennya.
Apakah aku mau menukarkan kedua tangan dan kakiku dengan uang 1milyar, dan besok aku buntung seumur hidup?
Apakah aku mau menukarkan pikiran sehatku, dan besok aku jadi orang gila?
Apakah aku mau menukarkan penglihatanku dengan uang 1milyar?
AKU RASA TIDAK....!!!!!
Jadi jika begitu harusnya aku bisa memanfaatkan kedua tangan dan kakiku, pikiran sehatku, penglihatanku, indera pengecap dan penciumanku, ketajaman pendengaranku serta semua yang telah Tuhan anugrahkan padaku untuk ditukarkan dengan uang sejumlah 1milyar bahkan lebih. Semestinya aku mampu berbuat sesuatu yang berguna bagi diriku dan orang laennya dengan apa-apa yang telah DIA anugrahkan padaku.
Hufffff............. ternyata selama ini aku belum cukup bersyukur. Aku belum menggunakan apa-apa yang telah DIA anugrahkan padaku dengan semestinya.
Mestinya aku bisa menunjukkan rasa syukurku dengan cara Berpikir yang benar, Berkata yang benar dan berbuat yang benar.
Karena itulah doa yang hidup.......
Minggu, 30 Januari 2011
TEMANKU YG TAK BERAGAMA DAN KTP-KU YANG BERAGAMA
TEMANKU YG TAK BERAGAMA DAN KTP-KU YANG BERAGAMA
Pertama kali aku bertemu dengan orang ini pada 23 Nopember 2010. Waktu itu dia membeli beberapa rangkaian bunga di tempat aku bekerja. Suasana toko pada hari itu cukup ramai, maklum menjelang Natal. Setelah membayar dia pun langsung pergi terburu-buru dengan taxi yang sedari tadi menunggunya. Tidak ada yang aneh, bahkan setelah 5 menit dia pergi aku sudah lupa dengan tampangnya.
Beberapa jam kemudian dia datang kembali. Langsung menemuiku dan mengucapkan kata maaf karena tadi terburu-buru sehingga kurang membayar lagi 300rb Rupiah.
“Kurang bayar?”, begitu batinku. Langsung aku periksa duit di kas dan dicocokkan dengan nota penjualan hari itu. Dan benar saja ada kekurangan sebesar 300rb Rupiah. Deng....!!!! bagaimana aku bisa seceroboh itu ya. Apakah ini akibat dari suasana toko yang ramai atau karena aku lagi gak fokus hari itu?
Setelah mengucapkan terima kasih dan ngobrol-ngobrol sebentar aku tawarin dia untuk makan malam. Dia menolak namun menawari aku makan siang keesokan harinya dan berjanji akan menjemputku. Aku langsung meng-iyakan saja karena kebetulan aku libur esok harinya. Jarang-jarang ada bule cantik mo nraktir bahkan dijemput pula. Hehehehehe.......
Besoknya dia betul-betul menjemputku dengan mobil yang dia kemudikan sendiri. Kemudian kami meluncur ke arah Seminyak. Namun sebelumnya kami mampir dulu ke POM bensin. Setelah membayar dia masuk kembali ke dalam mobil sambil menghitung uang kembaliannya, tapi kemudian turun lagi dan menghampiri petugas POM Bensin itu sambil menyodorkan uang 10rb dan berkata, “maaf bapak, uang kembaliannya lebih.”
Kami pun melanjutkan perjalanan. Karena situasi lalu-lintas di daerah Seminyak begitu ramai dan macet maka kami memutuskan untuk cari tempat makan di daerah Denpasar aja. Pilihan tempatnya kami sepakati sebuah rumah makan Padang dibilangan Jl.Diponegoro Denpasar.
Inilah enaknya makan di rumah makan padang, kurang dari 5 menit seluruh menu yang ada langsung tersaji di meja kami.
Sambil makan kami ngobrol ngalor-ngidul. Tak lupa aku juga ngucapin selamat Natal padanya. Dia bilang “Terima kasih. Selamat Natal juga untuk kamu. Tapi sebenarnya saya tidak beragama, karena saya tidak percaya Tuhan itu ada.”
Kata-kata itu sebetulnya tidak terlalu mengejutkan saya. Tapi entah bagaimana pernyataan itu bisa membuat saya tersedak hingga daging rendang dimulut saya yg belum sempat dikunyah bisa terlelan utuh-utuh.
Menurut dia di negaranya urusan agama adalah urusan pribadi, bukan urusan negara. Dan masih menurut dia semakin kita mendalami agama hanya akan membuat kita terkotak-kotak, bahkan bisa kehilangan respek terhadap pemeluk agama lain, semua merasa bahwa agamanya paling benar.
Aku bilang ke dia aku sempat baca beberapa kitab agama lain, semuanya indah. Jadi bukan agamanya yang salah tapi ORANGnya lah. Terus dia menambahkan “Aku tadi sempet denger kamu nelpon seorang temanmu yang berbeda keyakinan darimu. Kamu mengucapkan salam sesuai cara agama temanmu itu, tapi dia tidak membalasnya kan? Bahkan kalau kamu bertanya tentang sesuatu hal mengenai agama temanmu itu dia belum tentu mau berbagi cerita bukan? Itu karena dia tahu kamu tidak seagama dengan dia. Dia pasti curiga kamu bakal ngelecehin keyakinannya dia. Ini yang aku maksud seperti terkotak-kotak. Semua orang dinegaramu mengaku beragama tapi sangat banyak kasus korupsi, emang agama ngajarin korupsi?”
Dengar kata-kata itu tanpa sadar membuatku menahan nafas. Semakin banyak potongan rendang yang kutelan tanpa aku kunyah terlebih dahulu. Mungkin ini yang bikin aku gendut ya..... hehehehe...
Kata-kata dia ada benarnya dan akupun sering mengalaminya. Makanya sekarang kalau ingin mengetahui ajaran suatu agama yang berbeda keyakinan denganku aku langsung menemui pemuka agamanya. Lebih bijak, arif dan pasti jawabannya. Bukan pada yang pengetahuan agamanya yg pas-passan. Ini membuktikan semua agama itu indah. Tidak ada agama yang salah, orangnyalah yang salah.....
Sehari bergaul ma teman yang tidak percaya Tuhan, justru membuka hatiku. Aku lihat sendiri dia berkelakuan santun dan hormat pada semua orang, selalu melihat sisi baik dari seseorang, gak segan-segan bersedekah, mau jauh-jauh kembali ke toko tempat dia berbelanja hanya untuk mengembaikan uang kembalian yang lebih atau membayar kekurangannya. Ckckckckckck.... orang yang tidak percaya Tuhan tapi tahu nilai-nilai keTuhanan, orang yang tidak percaya Tuhan tapi memiliki tingkat SQ(Kecerdasan Spiritual) seperti dia.
Aku jadi malu. Ternyata yang selama ini aku lakukan Cuma ritual belaka. Tidak membuat kecerdasan spiritualku meningkat. Aku masih saja kadang-kadang berpikiran negatif terhadap orang lain, masih sering mengambil sesuatu yang bukan hakku, masih sering berpendapat kalau dapat kembalian lebih itu adalah rezeki atau pas makan di warung pelayannya salah hitung sehingga kita membayar lebih murah dari apa yang kita makan itu sebagai berkah. Ternyata itu bukan rezeki atau berkah, justru kita sedang berhutang pada semesta. Dan bila saatnya tiba semesta akan menagihnya kembali beserta bunga-bunganya.
Ternyata yang selama ini benar-benar beragama hanya KTP-ku saja.........
Pertama kali aku bertemu dengan orang ini pada 23 Nopember 2010. Waktu itu dia membeli beberapa rangkaian bunga di tempat aku bekerja. Suasana toko pada hari itu cukup ramai, maklum menjelang Natal. Setelah membayar dia pun langsung pergi terburu-buru dengan taxi yang sedari tadi menunggunya. Tidak ada yang aneh, bahkan setelah 5 menit dia pergi aku sudah lupa dengan tampangnya.
Beberapa jam kemudian dia datang kembali. Langsung menemuiku dan mengucapkan kata maaf karena tadi terburu-buru sehingga kurang membayar lagi 300rb Rupiah.
“Kurang bayar?”, begitu batinku. Langsung aku periksa duit di kas dan dicocokkan dengan nota penjualan hari itu. Dan benar saja ada kekurangan sebesar 300rb Rupiah. Deng....!!!! bagaimana aku bisa seceroboh itu ya. Apakah ini akibat dari suasana toko yang ramai atau karena aku lagi gak fokus hari itu?
Setelah mengucapkan terima kasih dan ngobrol-ngobrol sebentar aku tawarin dia untuk makan malam. Dia menolak namun menawari aku makan siang keesokan harinya dan berjanji akan menjemputku. Aku langsung meng-iyakan saja karena kebetulan aku libur esok harinya. Jarang-jarang ada bule cantik mo nraktir bahkan dijemput pula. Hehehehehe.......
Besoknya dia betul-betul menjemputku dengan mobil yang dia kemudikan sendiri. Kemudian kami meluncur ke arah Seminyak. Namun sebelumnya kami mampir dulu ke POM bensin. Setelah membayar dia masuk kembali ke dalam mobil sambil menghitung uang kembaliannya, tapi kemudian turun lagi dan menghampiri petugas POM Bensin itu sambil menyodorkan uang 10rb dan berkata, “maaf bapak, uang kembaliannya lebih.”
Kami pun melanjutkan perjalanan. Karena situasi lalu-lintas di daerah Seminyak begitu ramai dan macet maka kami memutuskan untuk cari tempat makan di daerah Denpasar aja. Pilihan tempatnya kami sepakati sebuah rumah makan Padang dibilangan Jl.Diponegoro Denpasar.
Inilah enaknya makan di rumah makan padang, kurang dari 5 menit seluruh menu yang ada langsung tersaji di meja kami.
Sambil makan kami ngobrol ngalor-ngidul. Tak lupa aku juga ngucapin selamat Natal padanya. Dia bilang “Terima kasih. Selamat Natal juga untuk kamu. Tapi sebenarnya saya tidak beragama, karena saya tidak percaya Tuhan itu ada.”
Kata-kata itu sebetulnya tidak terlalu mengejutkan saya. Tapi entah bagaimana pernyataan itu bisa membuat saya tersedak hingga daging rendang dimulut saya yg belum sempat dikunyah bisa terlelan utuh-utuh.
Menurut dia di negaranya urusan agama adalah urusan pribadi, bukan urusan negara. Dan masih menurut dia semakin kita mendalami agama hanya akan membuat kita terkotak-kotak, bahkan bisa kehilangan respek terhadap pemeluk agama lain, semua merasa bahwa agamanya paling benar.
Aku bilang ke dia aku sempat baca beberapa kitab agama lain, semuanya indah. Jadi bukan agamanya yang salah tapi ORANGnya lah. Terus dia menambahkan “Aku tadi sempet denger kamu nelpon seorang temanmu yang berbeda keyakinan darimu. Kamu mengucapkan salam sesuai cara agama temanmu itu, tapi dia tidak membalasnya kan? Bahkan kalau kamu bertanya tentang sesuatu hal mengenai agama temanmu itu dia belum tentu mau berbagi cerita bukan? Itu karena dia tahu kamu tidak seagama dengan dia. Dia pasti curiga kamu bakal ngelecehin keyakinannya dia. Ini yang aku maksud seperti terkotak-kotak. Semua orang dinegaramu mengaku beragama tapi sangat banyak kasus korupsi, emang agama ngajarin korupsi?”
Dengar kata-kata itu tanpa sadar membuatku menahan nafas. Semakin banyak potongan rendang yang kutelan tanpa aku kunyah terlebih dahulu. Mungkin ini yang bikin aku gendut ya..... hehehehe...
Kata-kata dia ada benarnya dan akupun sering mengalaminya. Makanya sekarang kalau ingin mengetahui ajaran suatu agama yang berbeda keyakinan denganku aku langsung menemui pemuka agamanya. Lebih bijak, arif dan pasti jawabannya. Bukan pada yang pengetahuan agamanya yg pas-passan. Ini membuktikan semua agama itu indah. Tidak ada agama yang salah, orangnyalah yang salah.....
Sehari bergaul ma teman yang tidak percaya Tuhan, justru membuka hatiku. Aku lihat sendiri dia berkelakuan santun dan hormat pada semua orang, selalu melihat sisi baik dari seseorang, gak segan-segan bersedekah, mau jauh-jauh kembali ke toko tempat dia berbelanja hanya untuk mengembaikan uang kembalian yang lebih atau membayar kekurangannya. Ckckckckckck.... orang yang tidak percaya Tuhan tapi tahu nilai-nilai keTuhanan, orang yang tidak percaya Tuhan tapi memiliki tingkat SQ(Kecerdasan Spiritual) seperti dia.
Aku jadi malu. Ternyata yang selama ini aku lakukan Cuma ritual belaka. Tidak membuat kecerdasan spiritualku meningkat. Aku masih saja kadang-kadang berpikiran negatif terhadap orang lain, masih sering mengambil sesuatu yang bukan hakku, masih sering berpendapat kalau dapat kembalian lebih itu adalah rezeki atau pas makan di warung pelayannya salah hitung sehingga kita membayar lebih murah dari apa yang kita makan itu sebagai berkah. Ternyata itu bukan rezeki atau berkah, justru kita sedang berhutang pada semesta. Dan bila saatnya tiba semesta akan menagihnya kembali beserta bunga-bunganya.
Ternyata yang selama ini benar-benar beragama hanya KTP-ku saja.........
Jumat, 07 Januari 2011
MANTRA PEMBUAT HOKKY
Hokky itu bisa diciptakan. Hokky ternyata bukan hanya untuk orang-orang tertentu, bukan untuk orang-orang pilihan, bukan hanya dari ras tertentu dan sebagainya. Hokky bisa kita undang kedatangannya dengan MANTRA.
MANTRAnya apaan nih??? Perlu tongkat sihir kayak punyanya Harry Potter gak sih???
Hehehehe….. sabar…..
Inti dari MANTRA ini adalah komunikasi, dan inti komunikasi adalah kata. Pemilihan kata yang tepat sangat dibutuhkan disini.
Trus kata-kata MANTRAnya apaan??? Apakah Abrakadabra, Alohomora, Inggardium Leviosa, Maxiliarmus????
Hush…. Ngaco!!!! Ketahuan banget penggemar Harry Potter nih.
Seperti yang saya sebutkan diatas. MANTRA adalah kata-kata, dan kata terangkai menjadi kalimat, hingga akhirnya kalimat-kalimat itu digunakan untuk berkomunikasi. Jadi untuk mengundang Hokky kita perlu berkomunikasi. Tepatnya KOMUNIKASI 3 LAPIS.
LAPIS PERTAMA
Komunikasi pada diri sendiri. Ini yang biasa disebut dengan Affirmasi, Incantation, Niat dan juga Visi. Pemilihan kata-kata pada komunikasi pada diri sendiri haruslah kata-kata yang positif. Penggunaan kata-kata seperti “Jangan, Tidak, Harus, Dilarang” mesti dihindari, karena diri kita atau tepatnya pikiran bawah sadar kita tidak mengenal kata-kata tersebut. Bila kata-kata positif terekam hingga kepikiran bawah sadar kita, ini akan menjadi Mindset kita yang akan mengarahkan hidup kita sesuai dengan apa yang kita yakini.
LAPIS KEDUA
Komunikasi pada orang lain. Bila kita menginginkan sesuatu yg kita impikan atau sekedar menawarkan barang atau jasa kita, maka kita mesti mengkomunikasikannya. Mereka bisa berfungsi seperti reminder yang mengingatkan kita bila sewaktu-waktu kita mulai menjauh dari impian kita, dan juga agar orang lain tahu apa saja yang kita tawarkan. Bahkan dari sekedar obrolan ringan di arisan kita bisa mengundang Hokky.
Pernah ada seseorang dalam sebuah arisan nyeletuk ,”Aku pengen buat warung bakso nih....” Tanpa disangka-sangka teman-teman arisannya antusias dan menjawab, “Sudah punya lokasi untuk warungnya? Aku punya nih tempatnya strategis dan ramai lho”,
“Ambil perabotannya di langgananku aja, diskonnya besar dan bisa diangsur...”,
“Untuk bahan-bahan pokoknya beli ditempatku ya, harga paling murah dan bisa diadu plus antar lagi”
LAPIS KETIGA
Komunikasi pada sang pencipta. Kita juga tidak boleh melupakan komunikasi dengan sang pencipta, komunikasi ini biasa kita sebut dengan doa. Doa bukan sekedar ritual sesuai agama kita. Doa juga bisa berupa prasangka-prasangka kita baik yang negatif maupun yang positif, dan juga doa adalah perasaan kita dari pikiran ataupun prasangka kita sendiri. Jadi rumusnya DOA=PIKIRAN+PERASAAN.
Kekuatan pikiran (pikiran sadar) hanyalah 12%, sedangkan kekuatan perasaan (pikiran bawah sadar) adalah 88%. Jadi bila ada konflik antara pikiran sadar dan pikiran bawah atau konflik antara pikiran dan perasaan kita maka yang selalu menang adalah Perasaan kita (pikiran bawah sadar kita).
Maksudnya saat kita menginginkan sesuatu, kemudian kita memikirkannya dan disaat yang bersamaan timbul sedikit saja perasaan ragu dan ketidak yakinan akan apa yang kita inginkan tersebut maka secara tidak sadar doa kita adalah ketidak yakinan dan keragu-raguan tersebut. Dan yang terjadi adalah kita mendapatkan apa-apa yang sesuai dengan yang kita ragukan tersebut.
Bukankah Tuhan serupa dengan apa yang kita prasangkakan terhadapNYA ????
MANTRAnya apaan nih??? Perlu tongkat sihir kayak punyanya Harry Potter gak sih???
Hehehehe….. sabar…..
Inti dari MANTRA ini adalah komunikasi, dan inti komunikasi adalah kata. Pemilihan kata yang tepat sangat dibutuhkan disini.
Trus kata-kata MANTRAnya apaan??? Apakah Abrakadabra, Alohomora, Inggardium Leviosa, Maxiliarmus????
Hush…. Ngaco!!!! Ketahuan banget penggemar Harry Potter nih.
Seperti yang saya sebutkan diatas. MANTRA adalah kata-kata, dan kata terangkai menjadi kalimat, hingga akhirnya kalimat-kalimat itu digunakan untuk berkomunikasi. Jadi untuk mengundang Hokky kita perlu berkomunikasi. Tepatnya KOMUNIKASI 3 LAPIS.
LAPIS PERTAMA
Komunikasi pada diri sendiri. Ini yang biasa disebut dengan Affirmasi, Incantation, Niat dan juga Visi. Pemilihan kata-kata pada komunikasi pada diri sendiri haruslah kata-kata yang positif. Penggunaan kata-kata seperti “Jangan, Tidak, Harus, Dilarang” mesti dihindari, karena diri kita atau tepatnya pikiran bawah sadar kita tidak mengenal kata-kata tersebut. Bila kata-kata positif terekam hingga kepikiran bawah sadar kita, ini akan menjadi Mindset kita yang akan mengarahkan hidup kita sesuai dengan apa yang kita yakini.
LAPIS KEDUA
Komunikasi pada orang lain. Bila kita menginginkan sesuatu yg kita impikan atau sekedar menawarkan barang atau jasa kita, maka kita mesti mengkomunikasikannya. Mereka bisa berfungsi seperti reminder yang mengingatkan kita bila sewaktu-waktu kita mulai menjauh dari impian kita, dan juga agar orang lain tahu apa saja yang kita tawarkan. Bahkan dari sekedar obrolan ringan di arisan kita bisa mengundang Hokky.
Pernah ada seseorang dalam sebuah arisan nyeletuk ,”Aku pengen buat warung bakso nih....” Tanpa disangka-sangka teman-teman arisannya antusias dan menjawab, “Sudah punya lokasi untuk warungnya? Aku punya nih tempatnya strategis dan ramai lho”,
“Ambil perabotannya di langgananku aja, diskonnya besar dan bisa diangsur...”,
“Untuk bahan-bahan pokoknya beli ditempatku ya, harga paling murah dan bisa diadu plus antar lagi”
LAPIS KETIGA
Komunikasi pada sang pencipta. Kita juga tidak boleh melupakan komunikasi dengan sang pencipta, komunikasi ini biasa kita sebut dengan doa. Doa bukan sekedar ritual sesuai agama kita. Doa juga bisa berupa prasangka-prasangka kita baik yang negatif maupun yang positif, dan juga doa adalah perasaan kita dari pikiran ataupun prasangka kita sendiri. Jadi rumusnya DOA=PIKIRAN+PERASAAN.
Kekuatan pikiran (pikiran sadar) hanyalah 12%, sedangkan kekuatan perasaan (pikiran bawah sadar) adalah 88%. Jadi bila ada konflik antara pikiran sadar dan pikiran bawah atau konflik antara pikiran dan perasaan kita maka yang selalu menang adalah Perasaan kita (pikiran bawah sadar kita).
Maksudnya saat kita menginginkan sesuatu, kemudian kita memikirkannya dan disaat yang bersamaan timbul sedikit saja perasaan ragu dan ketidak yakinan akan apa yang kita inginkan tersebut maka secara tidak sadar doa kita adalah ketidak yakinan dan keragu-raguan tersebut. Dan yang terjadi adalah kita mendapatkan apa-apa yang sesuai dengan yang kita ragukan tersebut.
Bukankah Tuhan serupa dengan apa yang kita prasangkakan terhadapNYA ????
Jumat, 03 September 2010
MENSYUKURI KETERPURUKAN
MENSYUKURI KETERPURUKAN
Apakah anda saat ini sedang merasa berada dalam titik nadir, terpuruk, atau bahkan merasa berada dalam puncak permasalahan hidup?
Bila iya, maka bersyukurlah.
Ha…. Bersyukur? Gak salah nih?
Iya bersyukur…. Kalian gak salah baca. Karena itu merupakan salah satu tanda-tanda akan terkabulnya doa kita. Coba pikir, bila kita sedang berada pada titik terendah, tentu arah berikutnya adalah akan naik keatas, karena jika ternyata kita masih turun ke bawah berarti kita belum benar-benar berada pada titik terendah……
Ketika permasalahan hidup terasa semakin memuncak, maka bersyukurlah, karena itu adalah tanda-tanda terkabulnya doa kita.
Bukankah keadaan langit tergelap di malam hari justru ketika menjelang pagi….
Jadi perbanyaklah syukur dan intropeksi diri………
Apakah anda saat ini sedang merasa berada dalam titik nadir, terpuruk, atau bahkan merasa berada dalam puncak permasalahan hidup?
Bila iya, maka bersyukurlah.
Ha…. Bersyukur? Gak salah nih?
Iya bersyukur…. Kalian gak salah baca. Karena itu merupakan salah satu tanda-tanda akan terkabulnya doa kita. Coba pikir, bila kita sedang berada pada titik terendah, tentu arah berikutnya adalah akan naik keatas, karena jika ternyata kita masih turun ke bawah berarti kita belum benar-benar berada pada titik terendah……
Ketika permasalahan hidup terasa semakin memuncak, maka bersyukurlah, karena itu adalah tanda-tanda terkabulnya doa kita.
Bukankah keadaan langit tergelap di malam hari justru ketika menjelang pagi….
Jadi perbanyaklah syukur dan intropeksi diri………
Langganan:
Postingan (Atom)