Jumat, 12 Februari 2010

BERPIKIR POSITIF SAJA TERNYATA TIDAK CUKUP.

BERPIKIR POSITIF SAJA TERNYATA TIDAK CUKUP.

Selama ini kita sering mendengar nasehat bahwa kita mesti selalu berpikir positif akan segala situasi serta kondisi yang sedang kita hadapi. Pikiran negatif itu biasanya dianjurkan untuk dilawan dengan berbagai trik sikap mental dan cara berpikir positif yang justru berpotensi menimbulkan konflik batin. Namun kita lupa, bahwa energi apapun yang ditekan akan menekan balik dengan kekuatan sebesar kita menekannya. Pikiran negatif berupa ketakutan dan kekhawatiran untuk beberapa saat sepertinya teratasi, namun sebetulnya sama sekali tidak lenyap. Ia hanya mengendap di pikiran bawah sadar. Jadi, ketika pikiran positif terkulai lemah, perasaan negatif itu akan muncul lagi.

Orang yang salah dalam menerapkan metode seperti ini cederung mudah terserang stres, depresi, dan SDD (Spiritual Deficit Disorder). SDD terjadi ketika misalnya seseorang terobsesi menjadi orang yang lebih baik tetapi malah disconnected dengan perasaannya yang sering dia tekan. Sementara keinginannya untuk sukses mendorongnya untuk selalu berpikir positif, walaupun perasaan hatinya tidak nyaman, tidak enak, tidak percaya diri, dan sebagainya. Perasaan tersebut tidak diindahkan, dan ia terus-menerus berusaha untuk berpikir positif. Tentu saja, yang ia peroleh adalah stres karena merasa sudah berusaha berpikir positif tapi sukses tak kunjung bisa diraihnya.

Kalaupun akhirnya bisa mencapai apa yang diinginkan, ia tidak bisa menikmati proses kehidupannya dengan tenang. Hidupnya menjadi tidak seimbang. Ini menjelaskan mengapa ada pengusaha yang hidupnya berlimpah harta tapi mencoba bunuh diri, atau juga pejabat yang hidupnya serba berkecukupan materi masih merasa miskin sehingga melakukan korupsi.

Ini karena konsep berpikir positif yang selama ini kita pahami, seseorang yang ingin kaya harus menanamkan dalam pikirannya bahwa ia harus memperbesar keinginannya untuk kaya. Tanpa menyadari jurang yang terjadi antara pikiran “ingin kaya” dan perasaan “miskin” yang semakin melebar. Konsep ini mengabaikan pentingnya memerhatikan perasaan pada saat kita berpikir. Dalam hal berpikir positif, ini disebabkan oleh adanya dua jenis pikiran yang saling bertentangan dan dipaksakan untuk dijalankan. Ketika seseorang berpikir (dengan sadar) “saya ingin kaya!” sesungguhnya didalam hati (bawah sadar) ia sedang mengatakan bahwa “saya miskin (karena itu saya ingin kaya)”. Maka semakin kuat ia berteriak “saya ingin kaya”!” maka semakin kuat pula pikran bawah sadarnya menjerit, “saya miskin...!!!” ingatlah bahwa pikiran bawah sadar (perasaan) jauh lebih kuat dari pada pikiran sadar.

Melalui perasaan, anda mengundang apa yang anda pikirkan. Oleh karena perasaan anda adalah “bahan-baku inti” dari pikiran anda. Manfaatkanlah kenyataan ilmiah ini.

Hidup dan berpikir dengan sengaja bukan saja sengaja memilih pikiran positif untuk anda fokuskan. Kalau hanya itu yang anda lakukan maka lama kelamaan pikiran kita menjadi berat. Berpikir dengan sengaja adalah memilih pikiran yang positif sambil memeriksa perasaan anda, hingga terjadi persetujuan dari hati dengan apa yang kita pikirkan sampai rasanya pas dan enak sesuai dengan yang anda inginkan. Anda akan mendapatkan apa yang paling sering anda rasakan sewaktu anda memikirkannya.