JADILAH SEORANG AHLI SYUKUR
“Dari yakinku teguh, Hati iklasku penuh, Akan karunia-MU.....”
Kutipan lagu “Syukur” diatas sering saya dengar sejak dari SD sampai SMA pas waktu upacara bendera. Pentingnya rasa syukur memang sudah sering kita dengar, baik dari pelajaran agama apapun maupun dari lingkungan sekitar kita. Saya yang lahir dan besar di Bali waktu saya kecil sering mendengar orang-orang yang selalu bersyukur apabila mendapatkan kejadian atau sesuatu yang mereka anggap menyenangkan. Bahkan ketika mereka tertimpa musibah pun akan selalu bersyukur. Saya masih ingat ketika seorang anak tetangga saya jatuh dari pohon mangga dan menderita luka-luka, orang tuanya melihat dan menolongnya sambil berucap, “Syukur kakinya tidak patah.” Atau paman dari teman saya yang mengalami kecelakaan lalu lintas hingga mengakibatkan kaki dan tangannya patahpun masih bisa melafaskan kalimat sukur seperti ini “syukurlah saya masih selamat dari kecelakaan sehebat itu.”
Namun seiring jalannya waktu dan perkembangan jaman, para ahli syukur seperti diatas makin sedikit. Yang banyak justru para ahli keluh dan bahkan para ahli umpat. Mereka begitu mudahnya mengeluh bahkan mengumpat. Dan semua keluhan serta umpatan itu mereka lakukan baik secara sepontan keluar dari bibirnya maupun yg mereka tuliskan di status facebooknya sebagai contoh.
Alangkah indahnya bila semua keluhan dan umpatan itu kita ganti dengan kalimat syukur. Karena apapun yang kita alami MESTI KITA SYUKURI. Apapun itu. Baik maupun buruk. Karena syukur itu sama pengertiannya dengan menerima dan merasakan nikmat dari Tuhan yang menciptakan dunia berpasang-pasangan (baik-buruk).
Terus bagaimana cara bersyukur? Masih sering kita(termasuk saya) yang keliru dalam menerapkan rasa syukur. Sekedar mengucapkan dibibir dan tidak merasakannya di hati. Padahal syukur adalah kemampuan kita untuk menikmati apa yang sedang kita alami. Mengucapkan syukur saja tanpa benar-benar merasakannya sama artinya dengan tidak jujur pada diri sendiri, karena mengatakan apa yang tidak dirasakan.
Sering kali kita juga cenderung sulit mensyukuri dan menikmati apa yang sudah kita miliki karena terlalu mengharapkan yang belum dimiliki. Itu karena yang aktif bekerja adalah pikirannya dan bukan hatinya. Akibatnya, selain sulit untuk bersyukur juga menjadi mudah mengeluh. Dan celakanya, saat mengeluh kita justru melakukannya dengan sepenuh hati. Benar-benar dirasakan. Ingat, kekuatan perasaan jauh lebih besar daripada kekuatan pikiran, sehingga dengan begitu apa yang kita keluhkan itulah yang sering mendatangi kita.
Jadi cara terbaik bersyukur adalah dengan mengenali dan menghayati rasa nikmat sekecil apapun dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sambil melantunkan lafas syukur dari bibir kita seperti (Alhamdullilah, Puji Tuhan, Astungkhara, dan lain sebagainya). Apapun yang sedang terjadi, baik maupun buruk, sebaiknya semua dihayati dan dinikmati.
Biasakanlah untuk selalu bersyukur. Karena kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus, akan menjadi keahlian. Jadilah ahli syukur dan bukannya ahli keluh.......
Terus, syukur dan sukses, adakah kaitannya? Ah, jangan ditanya. Erat sekali kaitannya. Anda sudah baca buku kecil berpengaruh besar The Secret? Dipaparkan di sana, syukur adalah anak tangga mutlak untuk memastikan kesuksesan. Wejangan si pengarang, "Bayangkanlah hal-hal yang Anda dambakan dengan penuh rasa syukur, seakan-akan Anda sudah menerimanya. Dengan demikian, Anda akan menerimanya segera!" Inilah hasil kerja dari hukum tarik-menarik (law of attraction) yang universal.
Dan yang perlu diingat :
“Seluruh proses menuju kekayaan mental, material dan spiritual dapat di ringkas dengan satu kata : “SYUKUR...!!!!!”