Dalam mengaktifasi Law of Attraction, syukur dan iklas adalah dua sikap yang mesti bisa kita kuasai. Bila kita terampil mengakses rasa syukur dan iklas di hati kita, pastilah segala kemudahan dan keinginan yang ada di hati bisa dengan mudah terwujud. Bahkan semua agama mengajarkan kepada kita umatnya untuk selalu bersyukur. Syukur yang bukan hanya terucap di mulut, bukan cuma terpikirkan di kepala, namun syukur yang terasa di hati.
Seluruh proses menuju kekayaan mental, material dan spiritual dapat diringkas dengan satu kata : “SYUKUR”
Syukuri apa yang sudah kita miliki saat ini, syukuri segala pencapaian kita selama ini dan ini yang paling penting : syukuri keinginan kita seolah-olah telah terwujud di depan kita. Langkah ini sering diabaikan karena agak sulit ditangkap logika. Disini kita bersyukur karena membayangkan hal yg kita doakan sudah terkabul. Dengan kata lain, kita seolah-olah sudah melihat, mendengar dan merasakan sepenuh hati bahwa doa kita sudah terwujud, karena itu kita bersyukur. Ini seperti kita sudah melunasi pembayaran (syukur) di muka, meskipun pesanan (doa) kita belum kita terima. Ini adalah langkah yg paling mudah sekaligus yg paling sulit dilakukan, terutama untuk mereka yg terlalu rasional dan analitis.
Langkah berikutnya adalah mengikhlaskan doa kita. Yakinlah doa kita akan dikabulkan. Jangan pernah ada keraguan sedikitpun. Teruslah berdoa sampai kita melupakannya (karena merasa telah memilikinya). Disinilah seninya. Gampang-gampang susah memang. Namun bagi kita yg telah terampil menerapkan ini (meminta, bersyukur, dan kemudian mengiklaskannya) pasti akan merasa bahwa keinginan-keinginannya begitu mudah mewujud.
HATI-HATI DENGAN DOA KITA
DOA = PIKIRAN + PERASAAN
Bila perasaan dan pikiran kita baik dan positif maka baik juga untuk kita. Namun bila pikiran dan perasaan kita negatif maka negatif pula dampaknya untuk kita. Di tingkat doa (Pikiran+Perasaan) yang namanya subyek, obyek dan predikat itu adalah satu, dia-dia juga. Bila kita kesal dan menyumpahi seseorang dengan segenap pikiran dan perasaan kita, sebenarnya kita sedang mendoakan keburukan untuk diri kita sendiri. Bahkan diri kita saat ini pun merupakan doa (pikiran+perasaan) kita dimasa lampau.
Tuhan selalu mengabulkan doa kita dan memberikan kita sesuatu yg terbaik menurutNYA, bukan yg terbaik menurut kita.
Ada orang yg berdoa mohon diberikan kesabaran hati, dan Tuhan mengabulkannya dengan memberikan cobaan-cobaan yg beruntun. Bukankah itu merupakan suatu hal yg logis? Bagaimana lagi Tuhan mengajarkan kesabaran yg dia minta kalau tidak melalui berbagai cobaan tersebut? Jadi jangan sembarangan berdoa, kalau meminta diberikan kesabaran, kita harus betul-betul siap dan sadar untuk menerima semua latihan kesabaran yg diberikan Tuhan.