GOAL SETTING + GOAL PRAYING = EASY GOAL SCORING
Banyak diantara rekan diskusi yang tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah Goal Setting bukan? Goal Setting itu bisa berupa target-target yang coba kita raih baik berupa benda maupun suatu situasi yang kita harapkan bisa dicapai. Goal Setting menekankan pada “positive thinking”. Jadi Goal yang coba kita raih itu berada di luar diri kita yang akan kita coba kejar, meskipun kadang kita sendiri tidak tahu kapan bisa mencapainya. Bila salah menerapkan metode positive thinking, bisa membuat kita merasa tertekan, terbebani dan bahkan stress, karena kita dipaksa untuk mengejar, mengejar dan mengejar goal-goal kita.
Sedangkan Goal Praying lebih menekankan pada “positive feeling”. Jadi kita berusaha memasukkan Goal-goal (tujuan-tujuan, keinginan-keinginan) yang ingin kita raih kedalam hati kita(niat-niat kita), hingga nantinya kita akan merasa seperti di lontarkan ataupun didorong untuk meraih Goal yg kita harapkan. DIDORONG dan bukan MENGEJAR, dan ini membuat kita lebih relaks, bersemangat dan yakin dalam mencapai goal-goal kita. Dalam Goal Praying diyakini bahwa “Hasil = kombinasi dari niat, usaha dan doa dengan penekanan pada rasa syukur”. Rasa syukur yang dimaksud adalah berterima kasih kepada Tuhan atas proses yang sedang dijalani dan atas hasil akhir yang AKAN diraih. Hal ini berangkat dari rasa YAKIN akan terkabulnya doa-doa kita. Syukur itu seperti down payment yang dibayarkan sebelum hasilnya(goalnya) kita terima.
Ketika Goal Setting (positive Thinking) kita padukan dengan Goal Praying (positive feeling) akan menjadi suatu daya dorong yang luar biasa dalam mencapai Goal-goal kita. Karena ketika pikiran dan perasaan kita bisa selaras, maka segala keraguan akan sirna. Yang timbul adalah keyakinan, dan inilah yang akan membuat goal-goal kita dapat kita raih dengan lebih sederhana. Yang kita lakukan dalam meraih goal-goal tersebut mungkin sama saja, yang membedakan adalah keadaran kita, keiklasan kita serta keyakinan kita dalam melakukan hal itu. Jadi kita tidak lagi berfokus pada hasil akhir, kita lebih berfokus dengan apa yang mesti kita lakukan sebaik-baiknya dan menyerahkan perwujudan hasilnya kepada Tuhan.
Senin, 29 Maret 2010
Minggu, 14 Maret 2010
MENGAPA LAW OF ATTRACTION SULIT SAYA TERAPKAN?
MENGAPA LAW OF ATTRACTION SULIT SAYA TERAPKAN?
Pertanyaan seperti ini sering saya dapat dari rekan-rekan diskusi. Mengapa Law of Attraction sulit saya terapkan? Biasanya saya kemudian menyuruhnya untuk melihat kembali artikel terdahulu yang berjudul “Cara Sederhana Menerapkan Law of Attraction”. Di artikel itu saya sampaikan bahwa ada 3 langkah sederhana untuk menerapkan Law of Attraction. Yaitu : Kita harus tahu apa yang kita mau, Kita berfokus pada apa keinginan kita itu, dan Bersyukur seolah-olah keinginan itu telah mewujud ke kehidupan kita.
Namun sering pada langkah kedua, “Fokus dan beri perhatian pada keinginan kita”, kita salah menerapkannya.
Terus salahnya dimana?
Ketika langkah pertama sudah kita jalankan, maka kita sudah mengetahui apa yang kita inginkan. Selanjutnya adalah kita mesti berfokus pada keinginan kita itu. Pada langkah ini kesalahan yang sering terjadi adalah ketika kita menginginkan sesuatu biasanya disadari atau tidak kita iringi dengan keraguan, kekhawatiran, ketakutan, dan ketidak yakinan akan terkabulnya keinginan kita itu. Dan hasilnya tentu saja serupa dengan apa yang kita ragukan, khawatirkan dan takutkan itu. Analoginya seperti pak pos yang selalu setia mengantarkan kiriman untuk kita. Namun setelah kiriman tiba dihadapan kita, kita merasa itu bukan kiriman untuk kita dan memberikan kembali kiriman itu kepada pak pos tadi. Hasilnya kita tidak mendapat apa-apa bukan?
Contoh : ada salah satu rekan diskusi yang bercerita pada saya tentang keingiannya memiliki pacar yang setia, jujur, perhatian dan sayang pada dia. Namun bersamaan dengan itu dia selalu khawatir kalau cowok yang mendekatinya itu suka selingkuh, tidak jujur, kurang perhatian dan tidak sayang padanya. Dan hasilnya sungguh ajaib, dia justru sering didekati oleh cowok-cowok yang serupa dengan apa yang dia khawatirkan diatas.
Kenapa bisa begitu? Itu karena dia salah menetapkan fokusnya. Dia lebih fokus pada hal-hal yang tidak dia inginkan. Dia menuliskannya di diarynya, dituliskan di status facebooknya dan terus dipikirkannya berulang-ulang. Disinilah kesalahannya. Kita tidak akan mendapat apa yang kita inginkan, tetapi kita akan mendapatkan apa yang kita fokuskan. Keinginan kita itu seperti Doa. Dan DOA=PIKIRAN+PERASAAN. Pikiran kita kekuatannya Cuma 12% sedangkan Perasaan kekuatannya 88%. Jadi ketika Pikiran dan Perasaan kita bertentangan maka Perasaan kitalah yang akan menang. Sehingga kita mendapatkan apa yang kita fokuskan, apa yang kita rasakan, tidak peduli kita menginginkannya atau tidak.
Jadi ketika kita menginginkan/mendoakan sesuatu yakinkanlah hati kita bahwa keinginan/doa kita itu akan terwujud. Sedikit saja keraguan sudah cukup menyabotase doa-doa kita itu.
Semoga Bermanfaat.
Pertanyaan seperti ini sering saya dapat dari rekan-rekan diskusi. Mengapa Law of Attraction sulit saya terapkan? Biasanya saya kemudian menyuruhnya untuk melihat kembali artikel terdahulu yang berjudul “Cara Sederhana Menerapkan Law of Attraction”. Di artikel itu saya sampaikan bahwa ada 3 langkah sederhana untuk menerapkan Law of Attraction. Yaitu : Kita harus tahu apa yang kita mau, Kita berfokus pada apa keinginan kita itu, dan Bersyukur seolah-olah keinginan itu telah mewujud ke kehidupan kita.
Namun sering pada langkah kedua, “Fokus dan beri perhatian pada keinginan kita”, kita salah menerapkannya.
Terus salahnya dimana?
Ketika langkah pertama sudah kita jalankan, maka kita sudah mengetahui apa yang kita inginkan. Selanjutnya adalah kita mesti berfokus pada keinginan kita itu. Pada langkah ini kesalahan yang sering terjadi adalah ketika kita menginginkan sesuatu biasanya disadari atau tidak kita iringi dengan keraguan, kekhawatiran, ketakutan, dan ketidak yakinan akan terkabulnya keinginan kita itu. Dan hasilnya tentu saja serupa dengan apa yang kita ragukan, khawatirkan dan takutkan itu. Analoginya seperti pak pos yang selalu setia mengantarkan kiriman untuk kita. Namun setelah kiriman tiba dihadapan kita, kita merasa itu bukan kiriman untuk kita dan memberikan kembali kiriman itu kepada pak pos tadi. Hasilnya kita tidak mendapat apa-apa bukan?
Contoh : ada salah satu rekan diskusi yang bercerita pada saya tentang keingiannya memiliki pacar yang setia, jujur, perhatian dan sayang pada dia. Namun bersamaan dengan itu dia selalu khawatir kalau cowok yang mendekatinya itu suka selingkuh, tidak jujur, kurang perhatian dan tidak sayang padanya. Dan hasilnya sungguh ajaib, dia justru sering didekati oleh cowok-cowok yang serupa dengan apa yang dia khawatirkan diatas.
Kenapa bisa begitu? Itu karena dia salah menetapkan fokusnya. Dia lebih fokus pada hal-hal yang tidak dia inginkan. Dia menuliskannya di diarynya, dituliskan di status facebooknya dan terus dipikirkannya berulang-ulang. Disinilah kesalahannya. Kita tidak akan mendapat apa yang kita inginkan, tetapi kita akan mendapatkan apa yang kita fokuskan. Keinginan kita itu seperti Doa. Dan DOA=PIKIRAN+PERASAAN. Pikiran kita kekuatannya Cuma 12% sedangkan Perasaan kekuatannya 88%. Jadi ketika Pikiran dan Perasaan kita bertentangan maka Perasaan kitalah yang akan menang. Sehingga kita mendapatkan apa yang kita fokuskan, apa yang kita rasakan, tidak peduli kita menginginkannya atau tidak.
Jadi ketika kita menginginkan/mendoakan sesuatu yakinkanlah hati kita bahwa keinginan/doa kita itu akan terwujud. Sedikit saja keraguan sudah cukup menyabotase doa-doa kita itu.
Semoga Bermanfaat.
Jumat, 05 Maret 2010
Mintalah Persetujuan Dari Hatimu
Mintalah Persetujuan Dari Hatimu
Kejadian ini terjadi sekitar 5 atau 6 bulan yang lalu. Ketika itu hari minggu, dan seperti biasanya kalau setiap hari minggu sore saya pasti pergi ke pantai Petitenget untuk sekedar lihat sunset atau mandi-mandi di pantai. Tanpa diduga disana saya bertemu dengan bekas teman semasa SMP dahulu. Setelah ngobrol ngalor-ngidul dan ketawa-ketiwi tiba-tiba air mukanya jadi serius. Sejurus kemudian dia mulai menceritakan tentang usahanya yang hampir bangkrut karena ditipu oleh rekan-rekan bisnisnya. Tanpa saya duga dia mohon kepada saya untuk diberikan bacaan-bacaan atau jampi-jampi serta syarat-syarat yang mesti dia lakukan agar usahanya bisa selamat. Saya pikir waktu itu dia becanda, sebab sejak awal bertemu kita Cuma guyon dan becanda tanpa henti. Tidak mau bikin dia kecewa saya asal celetuk aja ngomong, “Kamu mesti baca ini.” kataku sambil memberi dia secarik kertas yang telah saya tulisi mantra asal-asalan karangan saya sendiri. “Baca itu 3x setiap kamu akan meninggalkan rumah dan setiap kamu pulang ke rumah”, kataku sambil ketawa karena memang saya pikir kami sedang bergurau saat itu dan saya juga pikir dia tidak serius, masa minta jampe-jampe sama saya? Emang saya ada potongan mirip dukun apa? Lalu kami bepisah setelah itu.
Tiga bulan kemudian kami bertemu lagi secara tidak sengaja di salah satu pertokoan di kota Denpasar. Dengan sumbringah dia menjabat tangan saya sambil mengucapkan terima kasih berulang-ulang kali. Kemudian dia menceritakan bahwa setelah mengamalkan jampe-jampe yang saya berikan itu usahanya mulai membaik lagi, dan rekan-rekan bisnisnya yang dulu menipunya kini sudah kembali lagi dan usahanya mulai berkembang lagi. Saya Cuma bengong, dan mencoba mengingat-ingat mantra apa yang saya berikan ke dia. Kok bisa manjur ya? Waktu itu kan saya Cuma bercanda. Dan sebelum berpisah dia menyodorkan amplop yang saya yakin isinya pasti uang. Namun saya dengan halus menolak. Dan dengan sok bijaknya saya berkata, “Mendingan uang ini kamu berikan ke panti asuhan saja, atau di sedekahkan ke rumah ibadah yang memerlukannya.” Dalam perjalanan pulang saya terus berpikir. Bukan berpikir nyesel karena nolak amplop itu lho, tapi berpikir apa iya mantra asal-asalan bikinan saya itu berhasil menyelamatkan usaha temanku itu? Waktu itu aku kan Cuma bergurau saja. Wah...... ternyata Tuhan itu Maha Becanda ya.....!!!!
Rekan-rekan diskusi yang budiman. Cerita diatas menunjukkan begitu hebatnya sebuah sugesti. Sugesti itu mampu meluruhkan semua keraguan, ketakutan, dan kekhawatiran yang kemudian melahirkan keyakinan dan harapan. Keyakinan dan harapan itulah yang mendasari tindakan yang diambil oleh teman saya tersebut. Tindakan yang diambilnya saya rasa sama saja seperti yang dia atau kita biasa lakukan bila menghadapi masalah seperti itu. Cuma dia melakukan dengan sungguh-sungguh yakin akan berhasil karena semua keraguan dihatinya telah musnah. Dan hasilnya sungguh menakjubkan.
Ini serupa dengan efek placebo di dunia kedokteran. Pil placebo adalah pil yang tidak mempunyai khasiat sama sekali karena Cuma terbuat dari tepung dan gula biasa. Namun sering kali ketika dokter memberikannya kepada pasien penyakit tertentu sambil mengatakan bahwa ini adalah obat yang paling mujarab untuk penyakitnya dan kemudian si pasien itu meminumnya terjadilah keajaiban itu. Si pasien berangsur-angsur sembuh. Sungguh luar biasa bukan? Tubuh si pasien bisa menyembuhkan dirinya sendiri (self healing). Ini adalah buah dari keyakinan dari si pasien sendiri. Keyakinannya menumbuhkan harapan. Harapan untuk sembuh. Dan itulah yang dia dapatkan.
Demikian juga dikehidupan sehari-hari. Sebelum melakukan suatu tindakan atau menjalankan suatu rencana sangat penting bagi kita untuk meminta persetujuan dari hati kita sendiri. Ketika hati telah setuju hal ini akan melahirkan keyakinan. Dan keyakinan ini akan memusnahkan seluruh keraguan, kekhawatiran serta ketakutan di hati kita. Dan setelah keyakinan di hati didapat kita menjadi lebih fokus kepada tujuan dan rencana-rencana kita sehingga apa yang kita inginkan dapat diraih dengan lebih mudah dan sederhana.
Kejadian ini terjadi sekitar 5 atau 6 bulan yang lalu. Ketika itu hari minggu, dan seperti biasanya kalau setiap hari minggu sore saya pasti pergi ke pantai Petitenget untuk sekedar lihat sunset atau mandi-mandi di pantai. Tanpa diduga disana saya bertemu dengan bekas teman semasa SMP dahulu. Setelah ngobrol ngalor-ngidul dan ketawa-ketiwi tiba-tiba air mukanya jadi serius. Sejurus kemudian dia mulai menceritakan tentang usahanya yang hampir bangkrut karena ditipu oleh rekan-rekan bisnisnya. Tanpa saya duga dia mohon kepada saya untuk diberikan bacaan-bacaan atau jampi-jampi serta syarat-syarat yang mesti dia lakukan agar usahanya bisa selamat. Saya pikir waktu itu dia becanda, sebab sejak awal bertemu kita Cuma guyon dan becanda tanpa henti. Tidak mau bikin dia kecewa saya asal celetuk aja ngomong, “Kamu mesti baca ini.” kataku sambil memberi dia secarik kertas yang telah saya tulisi mantra asal-asalan karangan saya sendiri. “Baca itu 3x setiap kamu akan meninggalkan rumah dan setiap kamu pulang ke rumah”, kataku sambil ketawa karena memang saya pikir kami sedang bergurau saat itu dan saya juga pikir dia tidak serius, masa minta jampe-jampe sama saya? Emang saya ada potongan mirip dukun apa? Lalu kami bepisah setelah itu.
Tiga bulan kemudian kami bertemu lagi secara tidak sengaja di salah satu pertokoan di kota Denpasar. Dengan sumbringah dia menjabat tangan saya sambil mengucapkan terima kasih berulang-ulang kali. Kemudian dia menceritakan bahwa setelah mengamalkan jampe-jampe yang saya berikan itu usahanya mulai membaik lagi, dan rekan-rekan bisnisnya yang dulu menipunya kini sudah kembali lagi dan usahanya mulai berkembang lagi. Saya Cuma bengong, dan mencoba mengingat-ingat mantra apa yang saya berikan ke dia. Kok bisa manjur ya? Waktu itu kan saya Cuma bercanda. Dan sebelum berpisah dia menyodorkan amplop yang saya yakin isinya pasti uang. Namun saya dengan halus menolak. Dan dengan sok bijaknya saya berkata, “Mendingan uang ini kamu berikan ke panti asuhan saja, atau di sedekahkan ke rumah ibadah yang memerlukannya.” Dalam perjalanan pulang saya terus berpikir. Bukan berpikir nyesel karena nolak amplop itu lho, tapi berpikir apa iya mantra asal-asalan bikinan saya itu berhasil menyelamatkan usaha temanku itu? Waktu itu aku kan Cuma bergurau saja. Wah...... ternyata Tuhan itu Maha Becanda ya.....!!!!
Rekan-rekan diskusi yang budiman. Cerita diatas menunjukkan begitu hebatnya sebuah sugesti. Sugesti itu mampu meluruhkan semua keraguan, ketakutan, dan kekhawatiran yang kemudian melahirkan keyakinan dan harapan. Keyakinan dan harapan itulah yang mendasari tindakan yang diambil oleh teman saya tersebut. Tindakan yang diambilnya saya rasa sama saja seperti yang dia atau kita biasa lakukan bila menghadapi masalah seperti itu. Cuma dia melakukan dengan sungguh-sungguh yakin akan berhasil karena semua keraguan dihatinya telah musnah. Dan hasilnya sungguh menakjubkan.
Ini serupa dengan efek placebo di dunia kedokteran. Pil placebo adalah pil yang tidak mempunyai khasiat sama sekali karena Cuma terbuat dari tepung dan gula biasa. Namun sering kali ketika dokter memberikannya kepada pasien penyakit tertentu sambil mengatakan bahwa ini adalah obat yang paling mujarab untuk penyakitnya dan kemudian si pasien itu meminumnya terjadilah keajaiban itu. Si pasien berangsur-angsur sembuh. Sungguh luar biasa bukan? Tubuh si pasien bisa menyembuhkan dirinya sendiri (self healing). Ini adalah buah dari keyakinan dari si pasien sendiri. Keyakinannya menumbuhkan harapan. Harapan untuk sembuh. Dan itulah yang dia dapatkan.
Demikian juga dikehidupan sehari-hari. Sebelum melakukan suatu tindakan atau menjalankan suatu rencana sangat penting bagi kita untuk meminta persetujuan dari hati kita sendiri. Ketika hati telah setuju hal ini akan melahirkan keyakinan. Dan keyakinan ini akan memusnahkan seluruh keraguan, kekhawatiran serta ketakutan di hati kita. Dan setelah keyakinan di hati didapat kita menjadi lebih fokus kepada tujuan dan rencana-rencana kita sehingga apa yang kita inginkan dapat diraih dengan lebih mudah dan sederhana.
Langganan:
Postingan (Atom)