Senin, 29 Maret 2010

GOAL SETTING + GOAL PRAYING = EASY GOAL SCORING

GOAL SETTING + GOAL PRAYING = EASY GOAL SCORING


Banyak diantara rekan diskusi yang tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah Goal Setting bukan? Goal Setting itu bisa berupa target-target yang coba kita raih baik berupa benda maupun suatu situasi yang kita harapkan bisa dicapai. Goal Setting menekankan pada “positive thinking”. Jadi Goal yang coba kita raih itu berada di luar diri kita yang akan kita coba kejar, meskipun kadang kita sendiri tidak tahu kapan bisa mencapainya. Bila salah menerapkan metode positive thinking, bisa membuat kita merasa tertekan, terbebani dan bahkan stress, karena kita dipaksa untuk mengejar, mengejar dan mengejar goal-goal kita.

Sedangkan Goal Praying lebih menekankan pada “positive feeling”. Jadi kita berusaha memasukkan Goal-goal (tujuan-tujuan, keinginan-keinginan) yang ingin kita raih kedalam hati kita(niat-niat kita), hingga nantinya kita akan merasa seperti di lontarkan ataupun didorong untuk meraih Goal yg kita harapkan. DIDORONG dan bukan MENGEJAR, dan ini membuat kita lebih relaks, bersemangat dan yakin dalam mencapai goal-goal kita. Dalam Goal Praying diyakini bahwa “Hasil = kombinasi dari niat, usaha dan doa dengan penekanan pada rasa syukur”. Rasa syukur yang dimaksud adalah berterima kasih kepada Tuhan atas proses yang sedang dijalani dan atas hasil akhir yang AKAN diraih. Hal ini berangkat dari rasa YAKIN akan terkabulnya doa-doa kita. Syukur itu seperti down payment yang dibayarkan sebelum hasilnya(goalnya) kita terima.

Ketika Goal Setting (positive Thinking) kita padukan dengan Goal Praying (positive feeling) akan menjadi suatu daya dorong yang luar biasa dalam mencapai Goal-goal kita. Karena ketika pikiran dan perasaan kita bisa selaras, maka segala keraguan akan sirna. Yang timbul adalah keyakinan, dan inilah yang akan membuat goal-goal kita dapat kita raih dengan lebih sederhana. Yang kita lakukan dalam meraih goal-goal tersebut mungkin sama saja, yang membedakan adalah keadaran kita, keiklasan kita serta keyakinan kita dalam melakukan hal itu. Jadi kita tidak lagi berfokus pada hasil akhir, kita lebih berfokus dengan apa yang mesti kita lakukan sebaik-baiknya dan menyerahkan perwujudan hasilnya kepada Tuhan.