BERANI MIMPI
Impian adalah awal dari sesuatu yang nyata. Segala sesuatu yang spektakuler awalnya berasal dari suatu impian. Impian yang begitu kuat sampai terekam di pikiran bawah sadar (sub-concius mind) akan mengarahkan kita pada upaya-upaya serta rentetan peristiwa guna terwujudnya impian kita tersebut.
Seperti yang ada di film-film perang di TV, ketika akan menembakkan peluru kendali, kita mesti mengunci targetnya terlebih dahulu. Nah.... pikiran kita cara kerjanya persis seperti itu. Impian-impian kita adalah target sukses kehidupan kita.
Anak-anak kecil adalah mahluk yang luar biasa. Mereka berani bermimpi besar. Daya imajinasinya sungguh luar biasa. Masih ingat dalam ingatan kita ketika dulu masih kecil, anak-anak cowok suka bermain mobil-mobilan dari kardus atau dari kulit jeruk Bali, dan anak-anak cewek bermain anak-anakan, rumah-rumahan, ibu-ibuan dan lain sebaginya. Nah.... setelah dewasa anak-anak cowok itu mainnya mobil beneran, sedangkan anak-anak cewek yang dulu suka main anak-anakan, sekarang punya anak beneran. Kita mesti belajar mimpi pada anak-anak.
Namun masalahnya semakin kita dewasa, semakin takut kita bermimpi, karena kita dihadapkan dengan yang namanya REALITA......
Tidak usah takut menetapkan impian. Impian yang sifatnya personal dan bermakna bagi diri kita akan menumbuhkan keyakinan, keberanian, dan keiklasan dalam berusaha mewujudkan impian itu.
Seberapa keras upaya kita dalam mewujudkan impian kita? Karena impian besar biasanya buah dari suatu proses upaya keras, menyakitkan dan mungkin menjijikan bagi sebagian orang. Seekor ulat yang bermimpi menjadi kupu-kupu yang indah mesti melalui upaya yang keras dan menyakitkan ketika berusaha keluar dari kepompongnya. Pohon apel pun mesti diberi sesuatu yang menjijikkan berupa kotoran dari binatang yang biasa kita sebut pupuk agar bisa tumbuh subur dan berbuah yang lebat.
Kita juga bisa belajar dari anak-anak kecil. Ketika mereka menginginkan sesuatu, mereka akan ngotot dan berusaha keras meraih apa yang diinginkannya. Entah itu dengan merengek, atau menangis. Karena memang hanya itu yang mereka bisa.
Bagaimana dengan kita? Apa impian terbesar kita? Dan bagaimana upaya kita meraihnya?