Minggu, 30 Januari 2011

TEMANKU YG TAK BERAGAMA DAN KTP-KU YANG BERAGAMA

TEMANKU YG TAK BERAGAMA DAN KTP-KU YANG BERAGAMA

Pertama kali aku bertemu dengan orang ini pada 23 Nopember 2010. Waktu itu dia membeli beberapa rangkaian bunga di tempat aku bekerja. Suasana toko pada hari itu cukup ramai, maklum menjelang Natal. Setelah membayar dia pun langsung pergi terburu-buru dengan taxi yang sedari tadi menunggunya. Tidak ada yang aneh, bahkan setelah 5 menit dia pergi aku sudah lupa dengan tampangnya.
Beberapa jam kemudian dia datang kembali. Langsung menemuiku dan mengucapkan kata maaf karena tadi terburu-buru sehingga kurang membayar lagi 300rb Rupiah.
“Kurang bayar?”, begitu batinku. Langsung aku periksa duit di kas dan dicocokkan dengan nota penjualan hari itu. Dan benar saja ada kekurangan sebesar 300rb Rupiah. Deng....!!!! bagaimana aku bisa seceroboh itu ya. Apakah ini akibat dari suasana toko yang ramai atau karena aku lagi gak fokus hari itu?
Setelah mengucapkan terima kasih dan ngobrol-ngobrol sebentar aku tawarin dia untuk makan malam. Dia menolak namun menawari aku makan siang keesokan harinya dan berjanji akan menjemputku. Aku langsung meng-iyakan saja karena kebetulan aku libur esok harinya. Jarang-jarang ada bule cantik mo nraktir bahkan dijemput pula. Hehehehehe.......
Besoknya dia betul-betul menjemputku dengan mobil yang dia kemudikan sendiri. Kemudian kami meluncur ke arah Seminyak. Namun sebelumnya kami mampir dulu ke POM bensin. Setelah membayar dia masuk kembali ke dalam mobil sambil menghitung uang kembaliannya, tapi kemudian turun lagi dan menghampiri petugas POM Bensin itu sambil menyodorkan uang 10rb dan berkata, “maaf bapak, uang kembaliannya lebih.”
Kami pun melanjutkan perjalanan. Karena situasi lalu-lintas di daerah Seminyak begitu ramai dan macet maka kami memutuskan untuk cari tempat makan di daerah Denpasar aja. Pilihan tempatnya kami sepakati sebuah rumah makan Padang dibilangan Jl.Diponegoro Denpasar.
Inilah enaknya makan di rumah makan padang, kurang dari 5 menit seluruh menu yang ada langsung tersaji di meja kami.
Sambil makan kami ngobrol ngalor-ngidul. Tak lupa aku juga ngucapin selamat Natal padanya. Dia bilang “Terima kasih. Selamat Natal juga untuk kamu. Tapi sebenarnya saya tidak beragama, karena saya tidak percaya Tuhan itu ada.”
Kata-kata itu sebetulnya tidak terlalu mengejutkan saya. Tapi entah bagaimana pernyataan itu bisa membuat saya tersedak hingga daging rendang dimulut saya yg belum sempat dikunyah bisa terlelan utuh-utuh.
Menurut dia di negaranya urusan agama adalah urusan pribadi, bukan urusan negara. Dan masih menurut dia semakin kita mendalami agama hanya akan membuat kita terkotak-kotak, bahkan bisa kehilangan respek terhadap pemeluk agama lain, semua merasa bahwa agamanya paling benar.
Aku bilang ke dia aku sempat baca beberapa kitab agama lain, semuanya indah. Jadi bukan agamanya yang salah tapi ORANGnya lah. Terus dia menambahkan “Aku tadi sempet denger kamu nelpon seorang temanmu yang berbeda keyakinan darimu. Kamu mengucapkan salam sesuai cara agama temanmu itu, tapi dia tidak membalasnya kan? Bahkan kalau kamu bertanya tentang sesuatu hal mengenai agama temanmu itu dia belum tentu mau berbagi cerita bukan? Itu karena dia tahu kamu tidak seagama dengan dia. Dia pasti curiga kamu bakal ngelecehin keyakinannya dia. Ini yang aku maksud seperti terkotak-kotak. Semua orang dinegaramu mengaku beragama tapi sangat banyak kasus korupsi, emang agama ngajarin korupsi?”
Dengar kata-kata itu tanpa sadar membuatku menahan nafas. Semakin banyak potongan rendang yang kutelan tanpa aku kunyah terlebih dahulu. Mungkin ini yang bikin aku gendut ya..... hehehehe...
Kata-kata dia ada benarnya dan akupun sering mengalaminya. Makanya sekarang kalau ingin mengetahui ajaran suatu agama yang berbeda keyakinan denganku aku langsung menemui pemuka agamanya. Lebih bijak, arif dan pasti jawabannya. Bukan pada yang pengetahuan agamanya yg pas-passan. Ini membuktikan semua agama itu indah. Tidak ada agama yang salah, orangnyalah yang salah.....
Sehari bergaul ma teman yang tidak percaya Tuhan, justru membuka hatiku. Aku lihat sendiri dia berkelakuan santun dan hormat pada semua orang, selalu melihat sisi baik dari seseorang, gak segan-segan bersedekah, mau jauh-jauh kembali ke toko tempat dia berbelanja hanya untuk mengembaikan uang kembalian yang lebih atau membayar kekurangannya. Ckckckckckck.... orang yang tidak percaya Tuhan tapi tahu nilai-nilai keTuhanan, orang yang tidak percaya Tuhan tapi memiliki tingkat SQ(Kecerdasan Spiritual) seperti dia.
Aku jadi malu. Ternyata yang selama ini aku lakukan Cuma ritual belaka. Tidak membuat kecerdasan spiritualku meningkat. Aku masih saja kadang-kadang berpikiran negatif terhadap orang lain, masih sering mengambil sesuatu yang bukan hakku, masih sering berpendapat kalau dapat kembalian lebih itu adalah rezeki atau pas makan di warung pelayannya salah hitung sehingga kita membayar lebih murah dari apa yang kita makan itu sebagai berkah. Ternyata itu bukan rezeki atau berkah, justru kita sedang berhutang pada semesta. Dan bila saatnya tiba semesta akan menagihnya kembali beserta bunga-bunganya.
Ternyata yang selama ini benar-benar beragama hanya KTP-ku saja.........