TERSESAT DI BELANTARA PIKIRAN
Dalam sehari berapa kalikah kita berpikir? Pernahkah anda menghitungnya?
Pertanyaan ini pernah dijawab melalui suatu research yang kemudian dibukukan dalam buku yang berjudul The Aladin Factor karya Jack Canfield. Disana disebutkan bahwa manusia normal berpikir 60.000 kali sehari, dan 80% dari 60.000 diantaranya adalah pikiran yang negatif. Jadi gak heran bila kita menghadapi suatu masalah akan diikuti masalah-masalah lainnya, itu karena cara berpikir kita yang hanya berfokus pada masalah dan bukannya berfokus pada solusi.
Siapakah anda? Pernah gak anda memikirkan siapakah anda?
Mungkin anda akan menjawab dengan nama anda dan diikuti dengan jabatan anda, nama orang tua anda dll.
Tapi pernahkah anda memikirkan siapakah diri anda menurut keyakinan anda?
Kebanyakan dari kita (termasuk saya) jarang atau bahkan tidak pernah memikirkannya. Kita lebih sibuk dan juga lebih lama memikirkan mau beli baju apa, mau makan dimana, nonton film apa.
Sekalinya terpikir justru yang kita pikirkan adalah hal-hal yang negatif tentang diri kita. Seperti ‘saya tidak beruntung, saya selalu sial, saya anak orang miskin...dll’
Pikiran itu cara kerjanya luar biasa. Kalau kita pernah nonton film perang, disana digambarkan bahwa sebelum peluru kendali atau missile diluncurkan mereka harus menetapkan targetnya terlebih dahulu, pikiran kita pun cara kerjanya serupa dengan itu. Keyakinan tentang diri kita adalah target yang kita berikan pada pikiran kita. Jadi saat kita percaya bahwa kita adalah orang yang selalu sial, maka pikiran kita akan mencari segala sesuatu sebagai pembenaran bahwa kita memang orang yang selalu sial, sehingga entah bagaimana yang kita temui adalah ‘kesialan-kesialan’ saja.
Itulah pikiran kita. Dia akan mengejar sesuatu yang kita berikan fokus padanya. Suatu contoh kecil dan sederhana, sebelum tidur katakan pada diri sendiri dengan penuh keyakinan “SAYA AKAN BANGUN PUKUL 5 PAGI”, dan besoknya kita akan bangun jam 5 pagi, tanpa melihat jam dan tanpa menyetel alarm. Itu karena target yang kita berikan ke pikiran kita itu jelas. Namun bila targetnya tidak jelas seperti “SAYA AKAN BANGUN SEPAGI MUNGKIN”, maka pikiran akan merespon dengan 2 cara. PERTAMA : Pikiran akan mengabaikannya. “Jam 4 pagi, jam 5 pagi, jam 9 pagi, jam 10 juga pagi. Yang mana nih??? Kayaknya yang ngasi perintah itu orang goblok, ya udah gak usah dijalanin”. KEDUA : Pikiran akan menganggapnya terlalu serius. Jam 01.00 kita terbangun. Jam 01.10 terbangun lagi. Jam 01.15 bangun lagi dan malah gak bisa tidur. Jadi target yang kita berikan musti jelas.
Ternyata banyak sekali orang (termasuk saya) yang bermasalah dengan cara berpikir (mindset) kita. Kemampuan memberi arti (dalam hal ini cara berfikir atau mindset) ternyata bisa membuat hidup kita lebih mudah. Banyak orang yang tidak berbahagia bukan karena mereka tidak bisa bahagia, tapi karena mereka memberi arti “bahagia itu dengan cara yang salah”. Mereka biasanya menetapkan syarat yang aneh-aneh untuk bisa bahagia.
Misalnya ada orang yang ditanya, “KAPAN ANDA MERASA BAHAGIA?”
Kebanyakan mereka akan menjawab dengan, “Saya merasa bahagia saat punya uang 10 Milyar, punya rumah besar lengkap dengan kolam renang dan perabotan yang lux, punya mobil, dll”
Itu sama saja artinya selama mereka belum mendapatkan itu semua berarti mereka tidak bahagia. Sayang sekali kan? Padahal kita bisa berbahagia kapan saja. Kita boleh-boleh saja menetapkan goal pencapaian yang tinggi, tapi untuk masalah rule mengenai bahagia kita sendiri yang menentukan. Jadi buatlah rule mengenai bahagia itu semudah mungkin. So.... kita bisa bilang “SAYA MERASA BAHAGIA BILA SAYA MEMUTUSKAN UNTUK BAHAGIA”. Atau bila ada yang bertanya, “KAPAN ANDA MERASA BAHAGIA?” maka kita bisa menjawabnya dengan, “ANYTIME..... KAPAN SAJA”. Perlu diingat bahwa UANG belum tentu bisa membuat kita bahagia, tapi bahagia itu bisa menghasilkan UANG.
Kita bisa melakukan pemberian makna ini pada semua aspek kehidupan kita. Apa itu masalah? Kerja itu apa? Atau apa itu uang? Apakah anda percaya bahwa uang adalah akar dari segala kejahatan? Waduh.... celaka kalau anda punya keyakinan seperti itu(saya pernah tuh punya keyakinan itu). Itu sama aja artinya anda tidak akan bisa kaya dan punya banyak uang, karena dasarnya anda orang baik dan anda tidak ingin jadi jahat.
Cara kita berpikir atau mindset kita biasanya terekam jelas dipikiran bawah sadar kita. Dia bisa berperan sebagai autopilot yang mengarahkan hidup kita. Jadi bila cara berpikir atau mindset kita salah, maka dia secara otomatis mengarahkan hidup kita dan kita biasa menyebutnya ‘NASIB’. Ingat takdir semua manusia itu selalu baik, tapi nasib belum tentu. Nasib kita sendiri yang menentukan.
Menurut saya Tuhan selalu menjawab “YA”. Ada suatu rumus menarik yang menjelaskan bahwa ternyata semua doa kita itu terkabul. Rumus itu adalah “PIKIRAN + PERASAAN = DOA”. Pikiran itu kekuatannya adalah 12% dan perasaan itu kekuatannya adalah 88%. Jadi ketika kita menginginkan sesuatu namun perasaan kita merasa tidak yakin atau ragu-ragu, maka Doa yang terlantunkan adalah keraguan dan ketidak yakinan itu, sehingga yang kita dapat sering kali serupa dengan yang kita takutkan, serupa dengan yang kita tidak yakini tersebut. Jadi disini sangatlah penting untuk kita merasa FEEL GOOD terhadap pikiran kita sendiri.
Karena PIKIRAN+PERASAAN=DOA. Maka diri kita saat ini adalah hasil dari DOA (PIKIRAN+PERASAAN) kita dimasa lampau. So... kalau kita ingin menjadi seperti apa dimasa depan, kita bisa mulai dengan menDOAkan (MEMIKIRKAN+MERASAKAN) diri kita menjadi seperti apa dimasa depan, SESUKA HATI KITA......!!!!
Inilah esensi dari QS. Ar Ra’du 13:11 “Sesungguhnya takkan berubah nasib suatu kaum, sebelum mereka merubah SESUATU yang ada dalam diri mereka”. QS. Al Mukmin 60 “Dan Tuhanmu berfirman: mintalah kepada-KU niscaya akan AKU perkenankan bagimu”.
Hal ini paralel dengan yang saya temukan di bible Matius 7:8 dan Lucas 11:10 “Karena setiap orang yang meminta akan menerima, setiap orang yang mencari akan menemukan dan setiap yang mengetuk baginya pintu dibukakan”.
Dan hal ini berhubungan juga dengan yang saya temukan di kitab Dharma Vhada 1:1 “Pikiran adalah pembentuk dari segala sesuatu, pikiran adalah pelopor dan pikiran adalah pemimpin”.
Namun perlu diingat, setelah kita tahu bahwa ternyata pikiran memiliki kekuatan yang begitu dashyat, namun pikiran hanyalah tools atau alat bantu yang dianugrahkan Tuhan kepada kita. Jadi gunakanlah secara benar. Janganlah setelah kita tahu betapa hebatnya pikiran, kita justru malah men-TUHAN-kan pikiran. Itu fatal..... tidak boleh dilakukan. Sebab segala yang kita lakukan didunia ini selalu ada faktor X yang bermain didalamnya. Ada yang menyebut faktor X itu sebagai Tuhan dan ada yang menyebutnya sebagai “kondisi karma seseorang”. Jadi bila Tuhan tidak ridho, bila Tuhan tidak mengizinkan atau kondisi karmanya tidak memungkinkan, maka apapun yang kita kerjakan tidak akan berhasil.