Selasa, 24 Januari 2012

THE RAIN WALKER

Gak terasa sudah lebih dari dua minggu aku menggeluti hobby baruku, yaitu....... HUJAN-HUJANAN!!!!!!! Hehehehehehe

Kalau dulu setiap hujan dipagi hari selalu aku jadikan alibi buat bermalas-malasan, bolos kuliah, atau bolos kerja dengan alasan sakit lah, banjir lah, sampai yang paling konyol motor mogok karena STNK-nya basah......!!!!

Kalau sekarang tiap ada hujan malah semakin semangat, meski itu jam 12 malam sekalipun (sensasinya beda bo....). Bahkan pernah ketika berangkat kerja dipagi hari dengan sepeda motor dalam suasana hujan lebat, saat sampai diujung jalan hujannya habis sedangkan dibelakangku hujan begitu lebatnya, aku bisa putar motor dan balik lagi hanya untuk hujan-hujanan...... wkwkwkwkwkwkwk...... dasar orang gila.

Masih teringat ketika melintas didaerah Jimbaran, saking lebatnya tuh hujan membuat aku menepi sebentar. Aku berteduh disebuah areal yang belakangan baru aku tahu bernama Puja Mandala. Menurutku tempat ini cukup nyaman dengan 5 tempat ibadah dalam satu areal, ada masjid, gereja, pura, wihara yang saling berdampingan.

Cukup banyak orang yang berteduh ditempat itu, tapi pandanganku terpaku pada seorang cewek yang memakai T-Shirt yang ada tulisannya yg sangat keren, tulisannya adalah “GOD IS TOO BIG TO PUT INTO ONE RELIGION”.

Wow.... keren!!!!

Lumayan lama aku merenungi kata-kata itu. Aku jadi teringat kata-kata para pemuka agama dari agama yang berbeda yang menyiratkan hal yang serupa bahwa obat dari hati itu adalah agama (Ajarannya, Ritual Sembahyangnya, Kitab Sucinya), yang semuanya bermuara kepada DIA Yang Maha Kuasa.

Namun tiba-tiba terbayang sebuah adegan di film lama “SEVEN YEARS IN TIBET” yang dibintangi oleh Brad Pitt, diceritakan sewaktu China menginvasi Tibet mereka menghancurkan banyak Biara dan membunuh banyak Biksu serta mengatakan bahwa ,”Agama adalah RACUN.....”.

“Ah..... dasar orang komunis...!!!!”, begitu batinku sewaktu menyaksikan film itu.

Namun serupa dengan obat yang biasa kita konsumsi, dia juga bisa berubah menjadi racun bila takarannya tidak pas. Manusia yang kesepian di keramaian, Atau kelaparan di tengah kekayaan materi yang melimpah, Atau malah dihimpit kebencian di tempat ibadah yang suci dan mulia, barangkali merupakan efek dari Racun-Racun tersebut. Dan secara jujur harus aku katakan, akupun kadang-kadang ditulari penyakit serupa.

Kalau aku kutip dari tulisan Pak Gede Prama bahwa dunia pencerahan baru kita temukan kalau kita mulai menemukan orang Kristen di Masjid, saudara-saudara Muslim di Vihara, sahabat-sahabat beragama Budha di Pura, atau penganut Hindu di Gereja. Tentu saja maksudnya bukan
kehadiran fisik. Namun kehadiran secara persahabatan. Terutama, persahabatan dalam kedamaian dan kebahagiaan. Kalau masih kita merasakan permusuhan dan perlombaan kebenaran di tempat ibadah, aku mau bertanya: masihkah kita layak untuk berdoa dari tempat suci ini?

Dikaguminya tokoh-tokoh Sufi seperti Jalaludin Rumi di Barat, demikian berwibawanya karya-karya Kahlil Gibran di banyak belahan dunia, dikutipnya doa Santo Fransiscus dari Asisi tidak saja dalam kalangan umat Katolik, dugunakannya Baghawad Gita sebagai acuan tidak saja dalam komunitas Hindu, didengarnya pesan-pesan Dalai Lama oleh banyak sekali manusia yang bukan beragama Buddha, hanyalah sebagian bukti kalau tembok-tembok fanatisme semakin kecil dan semakin kecil. Sehingga dalam totalitas, hanya manusia-manusia yang enggan bertumbuhlah yang masih memeluk erat-erat fanatisme dan absolutisme. Saat itulah agama bisa berperan sebagai obat.

Ah......... jadi ngelantur kemana-mana nih pikiran. Udah ah.... aku mau melanjutkan perjalanan, kembali berburu hujan...... :D